A.
Identitas Sebagai Pengantar
Manusia adalah mahkluk
yang bertanya akan dirinya. Mahkluk yang harus mencari identitas dirinya.
Mahkluk dengan kesadaran di manakah seharusnya dia berada. Keadaan tersebut
tidak terjadi pada mahkluk-mahkluk lainnya, hewan, tumbuhan, dan lingkungan
sekitarnya.
Aristoteles menyebut manusia sebagai hewan yang berpikir. Ketika manusia
berpikir, pada saat itu manusia menyadari akan keberadaannya. I think,
there for I am, demikian Descartes menyebutnya. Karena
manusia adalah hewan yang berpikir, maka yang menyadari keberadaan sesuatu yang
lain dan yang menyadari sesuatu yang lain itu ada adalah manusia bukan yang
lain tersebut.
Berpikir adalah proses
akan lahirnya kesadaran. Kesadaran berarti sadar akan sesuatu (Edmund
Husserl).Kesadaran akan sesuatu maksudnya adalah ada
diri selain diri kita yang berada di luar sana atau di luar diri, adanya subjek
dan objek. kesadaran menimbulkan juga pemilahan, keraguan, dan pencarian makna.
Berbeda dengan yang
lainnya (the other), kesadaran menyebabkan manusia selalu ingin
bertanya. Dia selalu tidak puas akan dirinya (Sartre), selalu
mencari dan berubah tidak pernah menetap. Bahkan dia pun mempertanyakan
ke-akuannya.
Ketika manusia
bertanya akan dirinya, disitulah sebenarnya manusia telah berupaya membedakan
dirinya dengan yang lain, atau kita dengan mereka. Dalam perbedaan tersebut
timbul pula identitas aku, mereka, dan yang lain. Misal
saja jika aku bertanya aku siapa, pastilah aku juga akan memposisikan aku
dimana dan orang lain itu dimana. Misalnya nama ku Idham, Idham orang mana?
Idham orang Padang, dan dia siapa? Dia Nelda, dan Nelda orang Medan. Nelda
seperti ini dan aku seperti ini.
Identitas umumnya
dimengerti sebagai suatu kesadaran akan kesatuan dan kesinambungan pribadi,
suatu kesatuan unik yang memelihara kesinambungan arti masa lampaunya sendiri
bagi diri sendiri dan orang lain; kesatuan dan kesinambungan yang
mengintegrasikan semua gambaran diri, baik yang diterima dari orang lain maupun
yang diimajinasikan sendiri tentang apa dan siapa dirinya serta apa yang dapat
dibuatnya dalam hubungan dengan diri sendiri dan orang lain.
Identitas diri
seseorang juga dapat dipahami sebagai keseluruhan ciri-ciri fisik, disposisi
yang dianut dan diyakininya serta daya-daya kemampuan yang dimilikinya.
Kesemuanya merupakan kekhasan yang membedakan orang tersebut dari orang lain
dan sekaligus merupakan integrasi tahap-tahap perkembangan yang telah dilalui
sebelumnya.
Menurut Fromm (1947), Identitas diri dapat
dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan dari identitas sosial seseorang dalam
konteks komunitasnya. Selain mahkluk individual yang membangun identitas
dirinya berdasarkan konsep atau gambaran dan cita-cita diri ideal yang secara
sadar dan bebas dipilih, manusia sekaligus juga mahkluk sosial yang dalam
membangun identitas dirinya tidak dapat melepaskan diri dari norma yang
mengikat semua warga masyarakat tempat ia hidup dan peran sosial yang
diembannya dalam masyarakat tersebut.
Masyarakat begitu
dekat dengan diri kita, sehingga kita sering lupa bahwa masyarakat itu sendiri
berisi begitu banyak cara dalam mengadapi kehidupan (Fromm).
Kita sering menganggap cara kita memperlakukan sesuatu adalah satu-satunya cara
yang tersedia. Kita harus belajar bahwa semua itu telah menjadi alam bawah
sadar bagi kita semua, atau lebih tepatnya alam bawah sadar sosial. Jarang
sekali kita menganggap tindakan kita bukan berasal dari kehendak bebas kita
sendiri. Sebaliknya, kita hanya mengikuti tatanan yang sudah ada dan tidak
pernah kita pertanyakan lebih lanjut.
Menurut Erikson (1989,) membedakan
dua macam identitas, yakni identitas pribadi dan identitas ego. Identitas
pribadi seseorang berpangkal pada pengalaman lansung bahwa selama perjalanan
waktu yang telah lewat, kendati mengalami berbagai perubahan, ia tetap tinggal
sebagai pribadi yang sama. Identitas pribadi baru dapat disebut identitas Ego
kalau identitas itu disertai dengan kualitas eksistensial sebagai subyek yang
otonom yang mampu menyelesaikan konflik-konflik di dalam batinnya sendiri serta
masyarakatnya. Menurut erikson, proses pembentukan identitas berlangsung secara
pelan-pelan dan pada awalnya terjadi secara tak sadar dalam inti diri individu.
Proses pembentukan identitas yang berangsur-angsur itu sebenarnya sudah dimulai
pada periode pertama, yakni periode kepercayaan dasar lawan kecurigaan dasar.
JacquesLacan, psikoanalis asal Prancis, berpendapat bahwa
awal pengenalan identitas diri hadir ketikaseorang mengalami apa yang disebut
dengan fase cermin (Lacan, 1977). Sebelum masuk
ketahap tersebut, balita belum bisa mengenal pemisahan antara diri sendiri
danoranglain, bayi dan ibunya, di dalam dandi luar, laki-laki dan perempuan.
Fase cermin berlangsung dalam bentuk keterbelahan antara aku yang melihat dan
aku yang dilihat. Di sini subjek diidentifikasikan dengan sesuatu yanglain
dengan dirinya sendiri (bayangan pada cermin), dan citra subjek itu sendiri
yang terbangaun karenanya bergantung pada keterasingan, pada pemindahan diri
kepada yang lain. Pada tahap ini, citra diri
membentuk pengenalan diri yang keliru. Subjek menemukan bayangannya yang
memikat sepanjang ia menghasilkan sebuah gambar diri yang koheren, ketika tubuh
anak yang sesungguhnya benar-benar suatu dorongan-dorongan yang sembrawut.
Kesembrawutan pada
fase cermin tersebut akan menjadi lebih teratur ketika sang subjek mulai
memasuki tahap bahasa dan tahap hukum. Keterbelahan tahapan ini berbentuk aku
yang berbicara dan aku yang dibicarakan. Dalam memasuki tahap bahasa kita
menjadi akrab dengan karakter-karakter dalam sebuah kisah, yaitu kisah narasi
dimana bahasa dengan tidak peduli terus bercerita tanpa mempedulikan aspirasi
dan hasrat individu. Buat lacan, identitas diri atau subjektifitas adalah
produk bahasa dan tidak ada sesuatu apa pundi luar bahasa.
Karena demikian pentingnya
identitas, maka dalam perkembangan teori psikologi sosial, teori tentang
identitas pada kelanjutannya menjadi sebuah kajian tersendiri. Teori tersebut
dinamakan dengan teori identitas sosial yang dibawa dan diperkenalkan pertama
kali oleh Henri Tajfel dan John Turner.
Henri Tajfel Sebagai Tokoh Teori Identitas Sosial
Henri Tajfel adalah
keturunan Yahudi Polandia yang lahir di Wloclawek pada 22 Juni 1919. Akan
tetapi Tajfel sudah bersifat agnostik sejak mudanya. Dia sama sekali tidak
menganut secara penuh agama yang dianutnya.
Saat perang dunia
kedua pecah, Tajfel yang sedang belajar ilmu kimia di Universitas Sorbone,
Prancis, Kemudian diangkat menjadi tentara Francis. Pada masa peperangan,
Tajfel tertangkap oleh tentara Jerman pada Juni 1940, dan menghabiskan masa
waktu lima tahun sebagai tahanan perang diAustriadan Jerman.
Beruntung buat Tajfel,
oleh tentara Jerman yang ditugaskan untuk mewancarai dan mengamatinya, pada
pengamatan tentara tersebut tidak ditemukan ciri kalau dia adalah Yahudi. Jadi,
Tajfel selamat dari pengiriman dirinya ke kamp-kamp konsentrasi Nazi buat para
Yahudi. Meskipun begitu, ketika dia kembali ke rumah, banyak diantara teman dan
keluarganya telah mati. Pengalaman inilah yang membentuk karirnya dalam tiga
jalan. Pertama, dia mengembangkan konsep prejudice yang
bersifat menetap; kedua, mengakui kalau nasibnya terikat kuat
sepenuhnya dengan identitas kelompoknya; ketiga, dia memahami kalau
Holocoust bukan hasil dari psikologi tapi dari operasi proses psikologi dimana
konsep yang ada sebelumnya sudah terberi dalam konteks sosial dan politiknya. Setelah
lepas dari kemiliteran, Tajfel berkerja dibeberapa organisasi, termasuk pada the UN Refugee
Organisation untuk membantu membangun kembali hidup anak-anak yatim
dan orang-orang yang menjadi pengungsi akibat perang. Pekerjaan tersebut
membuat dia sering pergi ke Paris, Brussels dan Jerman Barat.
Tahun 1946 Tajfel
mulai tertarik untuk belajar psikologi. Keinginannya tersebut terbentuk dari
pengalaman hidup yang dijalaninya selama ini. Barulah pada akhir 1950, Tajfel
mendapat kesempatan belajar psikologi di Ingris, tepatnya di Birckbeck. Bekerja
seharian dan belajar pada malam hari, Tajfel pun meraih kelulusan predikat
terbaik pada Universitas London, sebelum dia menjadi asisten peneliti di
Universitas Durham tahun 1955 Awal dari pekerjaan Tajfel dibidang psikologi
adalah bidang psikologi sosial yang merupakan bidang baru dalam bidang
psikologi. Dia berkonsentrasi pada hubungan antara motivasi dan persepsi, hal
persepsi yang ditekankan adalah persepsi yang berlebihan.
Dalam bidang ini
Tajfel menemukan tiga konsep baru tentang persepsi :
1.
Bahwa asosiasi nilai dengan objek fisik tidak selalu memberikan
persepsi yang berlebihan dalam perbandingannya terhahadap stimulus yang netral
atau terhadap ukuran yang obejekjtif .
2.
Distorsi dalam persepsi tidak selalu berasal dari satu
arah.
3.
Tajfel membedakan atara penilaian persepsi interserial dengan
intraserial. Dalam hal ini, Tajfel membuat permasalahan penilaian tentang
persepsi menjadi lebih mudah dipahami, bahwa penilaian haruslah dilihat dulu
dalam perbandingannya antara stimulus ketimbang hubngan lansung antara satu
stimulus dan responnya saja (dalam, Purkhardt, 1993:140).
Setelah melakukan
eksperimen yang dinamakan eksperimen kelompok minimal (minimal group experiment)”,
Tajfel pun menjadi social psychologis yang cukup
terkenal. Penelitian tersebut berusaha mendeterminasikan tentang prasangka
kolektif, yang memperlihatkan kategorisasi sebagai pemicu terciptanya perbedaan
antar kelompok.
Prase-prase pemikiran
Tajfel tidaklah konstan, dia juga mengalami perubahan fokus pada penelitiannya.
Walaupun demikian,bentuk inteletualitas Tajfel tetap dalam bidang psikologi
Sosial. Dia hanya mengalami beberapa perubahan konsentarsinya antara awal
kerjanya dengan pekerjaan selanjutnya. Pada prase pertama dia membangun tentang
perspektif kognitif dalam permasalahan persepsi sosial di lingkungan fisik.
Lalu yang kedua dia membangun peran nilai dan kategorisasi dalam penilaian
persepsi antara lingkungan sosial dan fisik. Kemudian yang ketiga,dia
berkonsentrasi secara eksplisit pada fenomena prasangka dalam konteks hubungan
antar kelompok.
Ditahun 1968, Tajfel
menjadi Profesor Psikologi Sosial dari Departemen Psikologi pada Universitas
Bristol, dan dia tetap di sana sampai kematian menjemputnya pada tahun 1982. di
Universitas Bristol Tajfel bekerja sama dengan peneliti-peneliti muda seperti
Michael Billing, Dick Eisier, Jonathan Turner dan Glyns Breakwell. Pada 1974
Tajfel berhasil menembuskan proposal ke Social Science Research Council (SSRC)
mengenai identitas sosial, kategorisasi sosial, dan perbandingan sosial dalam
tingkah laku hubungan antar kelompok. Nantinya, bersama Turner, Tajfel
mempopuerkan teori identitas sosial.
B.
Individu & Identitas Sosial
Manusia sebagai
pribadi tidak dirumuskan sebagai suatu kesatuan individu saja tanpa sekaligus
menghubungkannya dengan lingkungan sekitarnya. Kita tidak dapat membugkusnya ke
dalam satu kesatuan individu saja, yang tidak pernah bersinggungan dengan
lingkungan. Ketika kita membicarakan identitas di situ juga kita membicarakan
kelompok. Buat Verkuyten, gagasan tentang identitas adalah hubungan antara
individu dengan lingkungannya (Verkuyten, 2005). Adanya identitas dapat
lebih memudahkan manusia menggambar keberadaan sesuatu sehinga dapat memberikan
kemudahan manusia untuk bertindak.
Suatu kepribadian akan
menjadi kepribadian apabila keseluruhan sistem psikofisiknya temasuk bakat
kecakapan dan ciri-ciri kegiatannya menyatakan sebagai kekhasan dirinya dalam
penyesuaian dirinya dengan lingkungannya. Kepribadian individu, keahlian
individu, ciri-ciri akan dirinya baru akan ketahuan kepribadiannya ketika sudah
melakukan interaksi dengan lingkungannya. Individu memerlukan hubungan dengan
lingkungan yang menggiatkannya, merangsang perkembangannya, atau memberikan
sesuatu yang ia perlukan. Tanpa hubungan, individu bukanlah individu lagi (Gerungan,
2004).
Karena Manusia tidak
hidup sendiri tetapi hidup bersama dalam masyarakat dan lingkungannya, makanya
Identitas terbentuk. Ini karena manusia butuh pengenalan diri. Identitas juga
hadir biar manusia dapat saling mengenal sesama dan dapat membedakan sesama.
Tajfel mendefinisikan Identitas sosial sebagai pengetahuan individu dimanadia
merasa sebagai bagian anggota kelompok yang memiliki kesamaan emosi serta nilai
(Tajfel, 1979).
Identitas sosial juga
merupakan konsep diri seseorang sebagai anggota kelompok (Abrams
& Hogg, 1990). Identitas bisa berbentuk kebangsaan, ras, etnik,
kelas pekerja, agama, umur, gender, suku, keturunan, dll. Biasanya, pendekatan
dalam identitas sosialerat kaitannya dengan hubungan interrelasionship,
serta kehidupan alamiah masyarakat dansociety(Hogg & Abrams, 1988).
Kemudian, pendekatan identitas sosial juga mengamati bagaimana kategori sosial
yangada dalam masyarakat ternyata tidak terbentuk secara sejajar, tapi juga
menimbulkan status sosial dan kekuasaan.
Identitas sosial
sebagai teori tidaklah berangkat dari kekosongan lalu terbentuk begitu saja
menjadi teori yang mengisi bidang psikologi sosial. Teori identitas sosial
adalah evolusi teori yang keluar dari teori kategosisasi sosial. Teori
kategorisasi sosial sendiri diperkenalkan oleh Tajfel tahun 1972. Teori
identitas sosial adalah teori yang dikembangkangkan setelah Tajfel melihat
kategorirasi yang dilakukan individu melekatkan juga nilai-nilai di dalamnya
pada kelompoknya dalam menilai kelompok lain. Untuk membahas lebih dalam
mengenai teori identitas sosial, ada baiknya dijelaskan dulu mengenai konsep
kategori sosial.
C.
Kategorisasi Sosial
Kategorisasi sosial
Terjadi ketika kita berpikir tentang seseorang baik diri kita atau orang lain
sebagai anggota kelompok sosial yang berarti atau bermakna (dalam Stangor,
2004). Dalam hal ini kita melihat saya sebagai bagian kelompok A, misalnya, dan
dia sebagai kelompok B. saya berada dalam kelompok ini karena memang sudah
terlahir menjadi bagian kelompok yang saya anut sekarang bisa juga memang
karena kelompok tersebut memang mendekati akan kriteria kepribadian saya.
Kategori sosial ini
bisa saja berdasarkan dari ciri-ciri fisik, asal dari instansi mana mereka
berasal, jenis kelamin, umur, dan lain-lain yang sekiranya bisa membentuk
kelompok sosial. Dalam hal kategori ini, kelompok bisa saja mempengaruhi
karakteristik dari individu, namun individu juga bisa mempengaruhi kelompok (dalam
Stangor, 2004).
Harus disadari juga,
dalam kategorisasi sosial, kategori diri juga ikut dipertimabangkan. Ketika
kita mengkategorikan seseorang belum itu menggambarkan secara keseluruhan
keberadaan seseorang tersebut. Untuk itu, kategori sosial hanya melihat nilai
umumnya saja dari suatu individu sebagai dari keloompok yang dia anut.
Kategorisasi Diri
terjadi ketika seseorang berpikir terhadap dirinya (daripada berpikir tentang
orang lain) sebagai anggota kelompok sosial. Kategorisasi diri melibatkan di
dalamnya perbandingan antara kelompok yang mereka miliki (in-group) dan
kelompok yang tidak mereka rasa memilikinya (out-group).
Tujuan dari kategori
sosial merupakan bagian dasar dari persepsi manusia untuk mempersepsikan yang
lain. Dengan adanya kategorisasi, orang lebih bisa mempersiapkan hal yang akan
dia tampilkan. Jika saja datang undangan pernikahan dengan adat betawi tentu
saja pakaian yang dikenakan untuk mengahadiri pesta pernikahan tersebut akan
berbeda dengan pakaian ketika akan pergi menghadiri pesta ulang tahun remaja 17
tahun.
Pengaruh dari
kategorisasi sosial tidak melulu memberikan pengaruh yang positif saja, malah
mungkin cenderung negatif. Contohnyaa saja stereotip; keyakinan seseorang atau
kelompok tentang karakteristik dari kelompok sosial atau anggota dari kelompok
tersebut. Lalu prasangka; sikap negatif yang unjustifiable terhadap out-group,
atau terhadap anggota dari kelompok tersebut. Kemudian diskrimanasi; tingkah
laku negatif yang unjustifiable terhadap anggota di luar kelompoknya
berdasarkan pandangan dari kelompok mereka.
Proses kategorisasi
sosial juga memberikan kepada kita informasi yang membuat kita mengetahui kita
ini sebagai bagian darimana sehingga kita pun dapat mengetahui dengan jelas.
Saya ini suku apa ? saya suku minang, karena bapak dan ibu saya orang minang.
Disamping itu, proses kategosisasi sosial memberikan kemudahan kognitif pada
manusia. kehidupan ini banyak sekali yang harus diolah oleh otak/pikiran.
Dengan mengkategorisasi, tentu saja manusia akan lebih dimudahkan untuk
mengenal. Dalam pemebeberan tersebut, proses kategorisasi sosial sudah hampir
menuju terhadap konsep identitas sosial sebagai teori.
D.
Teori Identitas Sosial
Dalam teori identitas
sosial, seorang individu tidaklah dianggap sebagai individu secara mutlak satu
dalam kehidupannya. Individu merupakan bagian dari kelompok tertentu baik
disadari maupun tidak disadari. Konsep identitas sosial adalah bagaimana
seseorang itu secara sosial dapat didefinisikan (Verkuyten, 2005).
Dalam hal identitas,
Identitas ituadayang terberi, tetapi adajugayang memang berasal dariproses
pencarian. Identitas yang terberi cantohnya saja dalam hal identitas laki-laki
dan perempuan. Identitas andi sebagai laki-laki adalah identitas yang sudah
terberi sejak lahir, mau tidak mau dia harus menerima itu. Namun demikian,
dengan kemajuan teknologi yangada, identitas yang terberipun bisa diganti
dengan identitas yang kita inginkan, misalnya saja yang tadinya andi memiliki
identitas laki-laki, namun dia memutuskan untuk merubah alat kelaminnya menjadi
perempuan, sehingga identitas andi sekarang adalah perempuan. Penjelasan
tersebut sekedar memberikan contoh saja kalau terkadang kitapun tak berhak
memilih identitas kita sendiri. Karena manusia sebagai individu tidak bisa melepas
keberadaannya dalam masyarakatmaka status identitas kita pun bisa saja datang
darioranglain. Ini bisa timbul karena ketika identitas terlahir, lahir pulalah
perbedaan yangjuga berupaya memberi identitas kepada orangdi luar dirinya.
Selain berusaha untuk
mengenal identitas sendiri, manusia pun berusaha untuk memberikan identitas
pada oranglain. Terkadang malah seorang individu tidak memiliki keberhakan
memilih identitas yang dirasa lebih dekat dengannya. jika adaoranglainyang
mengklaim dirinya berasal dari kelompok kita, tetapi sifat yangada padanya
berbeda, maka orangitu kita tafsirkan bukan berasal dari kelompok kita tetapi
berasal dari kelompok lainyang sesuai dengan kategorinya.
Memang, sebuah
identitas hadir karena manusia butuh untuk mengkategorisasikan sesuatu. Dengan
begitu, identitas sosial juga melibatkan pula ketegori dan menetapkan seseorang
ke dalam struktur sosial atau wilayah sosial tertentu yang besar dan lebih lama
ketimbang situasi partikular lainnya.
Jelas saja
kategorisasi dan penetapan terhadap posisi seseorang sangatlah dibutuhkan,
kalau tidak, bagaimana dia bisa membedakan yang satu dengan yang lainnya.
Ketika kategorisasi terbentuk, perbedaan tentunya tidak dapat dihindari (Tajfel,
1972). Identitas sosial menjadi relevan ketika satu dari kategori
melibatkan juga satu diri yang ikut berpartisipasi terhadap dorongan pada diri
lainyang berasal dari kelompok yang sama (Abrams & Hoggs, 1990).
Misalnya saja dorongan semangat untuk atlit olahraga yang berasal dari daerah
yang sama. Dorongan pemberian semangat tersebut terjadi karena sang atlit
membela kelompok yang mereka miliki bersama.
Manusia bukanlah
makhluk yang pasif, menerima begitu saja keberadaan dirinya dan tidak butuh
pengenalan diri. Manusia itu adalah makhluk yang dapat mengenal dan memikirkan
situasi yang ada, melakukan sesuatu, berefleksi, menegaskan, bereaksi, dan
berkreasi. Namun demikian, manusia tidak serta merta memilih akan identitasnya
berasalkan dari pemikirannya pribadi tanpa terkanan dari luar. Masyarakat pun
memberikan andil akan identitasnya. Ini karena identitas berasal dari interaksi
individu dengan masyarakat. Dengan interaksi itu dia dapat mengetahui identitas
mana yang cocok untuk dirinya.
Normalnya, suatu
identitas sosial biasanya lebih menghasilkan perasaan yang positif. Hal
tersebut terjadi karena kita menggambarkan kelompok sendiri diidentifikasikan
memiliki norma yang baik. Jika anda berada dalam universitas yang terbaik di
Indonesia, serta menjadi bagian dari kelompok tersebut merupakan bagian dari
keinginan anda juga, dan ternyata hal itu membuat diri anda nyaman karena anda
memang senang menjadi bagian dari mereka (Branscome, Wann, Noel, &
Coleman, 1993; Deaux, 1996; Ethier & Deaux, 1994; P. Oakes & Turner,
1980; Oakes, haslam, & Turner, 1994; M. Rubin & Hewstone, 1998; Tajfel,
1981, dalam Stangor, 2004).
Identitas sosial yang
melekat pada seseorang merupakan identitas posistif yang ingin dipertahankan
olehnya. Oleh karena itu, individu yang memiliki identitas sosial positif, maka
baik wacana maupun tindakannya akan sejalan dengan norma kelompoknya. Dan, jika
memang individu tersebut diidentifikasikan dalam suatu kelompok, maka wacana
dan tindakannya harus sesuai dengan wacana dan tindakan kelompoknya.
Konsep identitas
sosial sebenarnya berangkat dari asumsi umum:
1.
Setiap individu selalu berusaha untuk merawat
ataumeninggikan self-esteemnya:
mereka berusaha untuk membentuk konsep
diri yang positif.
2. Kelompok
atau kategori sosial dan anggota dari mereka berasosiasi terhadap konotasi nilai
positif atau negatif. Karenanya, identitas sosial mungkin positif atau negatif
tergantungevaluasi (yang mengacu pada konsensus sosial, bahkan pada lintas
kelompok) kelompok tersebut yang memberikan kontribusi pada identitas sosial
individu.
3. Evaluasi dari salah satu kelompok adalah
berusaha mengdeterminasikan danjuga sebagai bahan acuan pada kelompok lain
secara spesifik melalui perbandingan sosial dalam bentuk nilai atribut atau
karakteristik (Tajfel, 1974, dalam Hogg & Abrams, 2000.
Identitas sosial
sebagai teori tidak bisa lepas dari keinginan individu untuk memperbandingkan
dirinya serta kelompoknya dengan yanglain. Perbandingan sosial digambarkan oleh
Festinger (1954) sebagai teori dimana bisa membimbing kita untuk
membandingkandiri kita dengan yanglain, siapa yang serupa dengan kita dan siapa
yang berbeda, siapa yang berada di atas dan siapa yang berada di bawah.
Setidaknya ada tiga
variabel yang mempengaruhi hubungan pembedaan antar kelompok dalam situasi
sosial yang nyata (Tajfel, 1974; Turner, 1975; dalam Hogg &
Abrams, 2000).
1.
Individu pasti memiliki internalisasi kelompok mereka sebagai
konsep diri mereka: secara subjektif mereka pasti menidentifikasikan kelompok
yang relevan. Hal ini tidak cukup darioranglain saja yang mengidentifikasikan
seseorang kalau dari kelompok manadia berasal.
2.
Situasi sosial akan
menciptakan perbandingan sosialyang memungkinkan terjadinya seleksi dan
evaluasi atribut relasi yang relevan. Perbedaan kelompok pada tiap-tiap daerah
tidak sama secara sikinifikan. Misalnya saja, di Amerika perbedaan kelompok
lebih cenderung menonjol pada perbedaan warna kulit, tapi perbedaan warna kulit
bukan sesuatu yang menonjol di Hongkong.
3.
in-group tidak membandingkan dirinya pada tiap proses kognitif
yangada pada out-group:
out-group pastinya dipersepsikan sebagai kelompok perbandingan yang
relevan baik dalam kesamaan, kedekatan, dan secara situasional menonjol.
Kemudian, Determinasi out-group dihasilkan sebagai
perbandingan terhadap determinasi in-group.
Menurut Sarben &
Allen (1968), identitas sosial juga berfungsi sebagai pengacu keberadaan
posisi seseorang berada di mana dia. Berada di tingkatan mana kita berada,
posisi seperti apa saja yang keberadaannya sama dengan kita dan mana juga yang
berbeda. Teori identitas sosial melihat bahwa suatu identitas sosial
selalumengklarifikasikan dirinya melalui perbandingan, tapi secara umumnya,
perbandigannya adalah antara in-groups dan out-groups. In-groupsbiasanya
secara stereotype positif sifatnya, selalu lebih baik dibandingkan out-groups.
Identitas sosial juga
menghasilkan representasi sosial yang keluar dari individu-individu yang
berkumpul serta memiliki pandangan dan emosi yang sama (Doise. 1998,). Representasi sosial dapat didefinisikan sebagai
prinsip hubungan simbolik yang terorganisasi. Mereka memperkenalkan letak
individu dalam hubungannya dengan objek sosial secara signifikan.
Representasi sosial
dari tiap-tiap identitas adalah berbeda. Masing-masing identitas memiliki
pandangannya dan pemahamannya terhadap dunia. Dari situ timbullah stereotipe,
jika anda berasal dari kelompok tersebut maka sifat-sifat anda tidak jauh dari
apa yangada dalam skema akan sifat-sifat kelompok anda. Sifat-sifat kelompok
dimana individu berasal pastilah membawa sifat kelompoknya, Contoh : Jika nelda
dari medan maka sifat nelda mungkin saja tidak jauh dengan stereotipe yang
terbentuk tentang orangmedan adalah seperti itu. Tentu saja dalam hal ini bias
terhadap sifat individu tidak dapat dihindari.
Identitas sosial Berusaha
untuk medefinisikan dan mengeenal pemilahan dan penetapan. Setidaknya ada tiga
komponen dasar bagi manusia untuk memilah dan menetap dari suatu identitas
(Wenholt, dalam Verkueyten, 2005);
1.
Komponen struktur sosial.
Dalam kehidupan sosial selalu ada klasifikasi sosial orangke
dalam suatu kategori atau kelompok. Telah sama-sama dijelaskan bahwa
kategosrisasi sosial adalah dasar berpijak bagi seseorang dalam proses
identitas dan hubungan antar kelompok. orang bisa saja diklasifikasikan ke
dalam kategori jenis kelamin, umur, etnik, ras, budaya, dll.
2.
Komponen budaya
Komponen budaya adalah kategori seseorang dalam prakteknya yang
sudah berlangsung terus menerus. Kategorisasi sosial belumlah bisa
memperkenalkan seseorang kepada identitas sosial. komponen kedua ini dibutuhkan
untuk melihat bagaimana seseorang itu bertindak, apakah memang tindakan yang
dilakukan sesuai juga dengan norma kelompoknya. Dan tentu saja tingkah laku
dapat mereferensikan seseorang dari kelompok manadia berasal.
3.
Definisi ontologism
Label dari kategori sosial itu kuat bukan hanya berasal dari
tingkah lakunya, tetapi juga berasal daricara anggota dari suatu kategori (bisa
kelompok, etnik, dll) itu melihat. Komponen ketiga ini, definisi ontologi,
mencoba mengungkapkan orang lewat nilai alamiah orang tersebut
dikategorisasikan. Komponen ini pun berangkat dari pernyataan yang sangat
mendasar bahwa memang itulah dia, dandia tidak bisa menyangkal karena identitas
ini memang menceritakan sesuatu tentang dirinya, tentang seperti apa dirinya.
Hal tersebut memang menceritakan seseorang seperti apa (Verkuyten, 2005:
44-47).
Ketiga komponen yang
telah dijelaskan tersebut tidak terpisah dalam suatu hubungan. Bahkan mereka
sangat dekat berhubungan. Hal ini malah merupakan kombinasi yang memberikan
penjelasan identitas lebih dalam dan jelas.
E.
Identitas Sosial & Identifikasi
Dengan adanya
identitas kita memang menjadi tahu siapa kita dan siapa orang lain yang ada didepan
kita, dimana posisi dia berasal, dan seperti apa dia seharusnya.
Permasalahannya, suatu identitas individu itu, yang melekat pada dirinya tidaklah
satu identitas, melainkan banyak identitas.
Selain orang Indonesia,
seseorang juga bisa sebagai muslim, atau seorang ayah (Verkueyten, 2005:50).
Hal ini tergantung dari hubungan keterikatan orang tersebut terhadap suatu
identitas. Seorang individu yang memiliki keterikatan dengan istri, dengan
anak, dengan pekerjaannya, dan dengan orang tuanya, maka individu tersebut
setidaknya memiliki 4 identitas yangdia sandang, sebagai suami, sebagai ayah,
sebagai pekerja, sebagai anak. (Stryker, 1968, 1980, dalam Smith-Lovin, 2002).
Dalam keempat identitas tersebut, peran-peran yang dilakukan tentulah tidak
sama.
Krisis identitas juga
bisa terjadi karena identitas menonjol yang disandangnya memberikan nilai yang
negatif buatnya. Tak jarang kita mendengar keinginan orang berkulit hitam yang
tinggal di Amerika hendak mengganti kulitnya menjadi warnah putih karena
penghinaan yang selalu diberikan kepada ras mereka.
Dalam dunia nyata,
kebanyakan dari individu pun biasanya memiliki keanggotaan kelompok yang lebih
dari satu. Hal tersebut juga memberikan pengaruh pada bias terhadap
kategorisasi sosial dan in-group. Jika ada satu orang yang menjadi
pemimpin pada dua kelompok yang berbeda tentu akan sulit menilai sifat dia
secara siginikan lebih dekat kemana. Saat ini, kajian tentang multi-identitas
merupaan kajian yang hangat dalam bidang penelitian psikologi sosial terhadap
identitas. Ini terjadi karena kebanyakan dari para peneliti tentang
identifikasi sosial sudah setuju kalau tiap orang memiliki identitas yang banyak/multi
( e. g., Stryker & Statham, 1985; tajfel,
1978; for review, see deaux, 1996; dalam Brewer, 2002).
Memiliki identitas
sosial yang banyak memungkinkan timbulnya kombinasi pada tiap identitas
tersebut. Ini terjadi karena tiap identitas sosial itu tidak bebas, melainkan
berhubungan dekat pada tiap-tiapnya. Terkadang isu ras juga bersangkut paut
dengan suatu bangsa atau warna kulit, bahkan gender dan agama (Miles, 1989,
dalam Verkuyten, 2005). Seperti misalnya perjadi konflik antara suku minang
dengan suku batak, pertikaian tersebut bisa saja berawal dari permasalahan
etnik yang kemudian berimbas menjadi isu pertikaian agama karena orang batak
itu Nasrani dan orang Minang itu Muslim.
Brewer (2002)
melihat, walaupun tiap individu memiliki identitas lebih dari satu, menurutnya
ada yang rendah sifatnya tetapi ada juga yang tinggi sifat kekompleksitasan
identitasnya. Individu dengan kompleksitas identitas sosial yang rendah
cenderung akan lebih sering bertemu dan berinteraksi pada kelompoknya. Identitas
tersebut membuat jarak antara individu dan kelompok sulit dipisahkan.
Kompleksitas sosial yang rendah adalah identitas yang secara subjektif lebih
melekat pada satu representasi kelompok. Individu dengan kompleksitas identitas
sosial yang tinggi dapat melihat perbedaan dirinya dengan kelompoknya. Dari
merekatercipta juga jarak serta adanya pemisahan antara dirinya sejati dengan
dirinya sebagai anggota kelompok.
Kompleksitas sosial
yang tinggi adalah individu yang secara subjektif cukup sulit diidentifikasikan
dia merupakan representasi dari kelompok mana. Lebih spesifik lagi, ketelibatan
pemahaman yang komplek dapat dilihat dari apa maksud orang kalau saya adalah
kelompok “A” dan “B”. Padahal setiap kelompok memiliki ciri khas dan nilai yang
berbeda. Apalagi kalau individu tersebut merupakan ketua dari kedua kelompok
yang dia sandang.
Individu yang lebih
Sering bertemu, berinteraksi, dengan kelompok yang itu-itu saja akan lebih
membuat Individu tersebut merasa telah menyatu dengan kelompoknya. Individu
yang demikian menurut Brewer akan lebih berelasi negatif terhadap inklusifitas in-group dan
toleransi terhadap out-group, dia akan bersifat intoleran pada
kelompk yang dianggapnya berbeda. Tetapi Individu yang rendah tingkat
kompleksitas sosialnya akan lebih tidak toleran dan menerima out-groups secara
umum dibandingkan dengan individu yang tinggi tingkat kompleksitas sosialnya.
Nilai positif kelompok cenderung akan lebih tinggi pada individu yang rendah
kompleksitas sosialnya.
Identifikasi Identitas Terhadap Rasa
Problem identitas
sosial yang komplek akan berpengaruh sekali terhadap idetifikasi diri, berada
pada seperti apa diri individu tersebut. Ketika sudah memutuskan identitas yang
dipilih, bukan berarti identitas-identitas lainnya dinafikan dan tidak diakui.
Hal ini terjadi pada
penelitiannya Inga jasinskaja-Lahti & Kamerla Liebkind (1999).
Mereka meneliti para Imigran Rusia yang tinggal di Finladia. Penelitian
menunjukan ternyata kebanyakan dari mereka tetap mengidentifikasikan identitas
diri mereka sebagai orang Rusia. Tetapi,Walaupun mereka mengidentifikasikan
diri mereka sebagai Rusia, mereka tetap memiliki pandangan positif tentang
Finlandia sebagai wilayah yang dia huni sekarang. Pandangan positif tersebut
bermacam-macam, ada yang tetap begitu bangga menjadi Rusia, ada pula yang
mengatakan senang menjadi warga Finlandia, adapula yang mengatakan senang
menjadi bagian dari budaya Finlandia. Respon tersebut tidak lepas juga dari
penerimaan orang Finlandia asli terhadap para pendatang, ditambah dengan pergaulan
para imigran.
Untuk ukuran rasa
memiliki identitas dan persepsi pada masyarakat saat ini, tingkatan
identifikasi etnik sulit sekali untuk dicari signifikansinya (Jasinskaja-Lahti
& Liebkind, 1999). Pada masyarakat perkotaan misalnya saja, di sana berkumpul
berbagai masyarakat dari berbagai etnik, agama, kepentingan dan kebiasaan. Ada
pendatang yang sudah lama tinggal di sana, ada juga yang baru saja tiba.
Tentunya mereka tidak langsung begitu saja berhubungan dan berkomunikasi
layaknya seperti kebiasaan mereka dahulu, pastilah ada perubahan. Ini terjadi
karena mereka berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaannya sekarang.
Dalam menjalani dunia yang baru tentunya akan ada proses penyesuaian diri
dahulu.
Ketika hendak
membandingkan identitas satu dengan yang lainnya, kita tidak bisa juga
membandingkannya lewat satu kategori yang sama saja. Kita tidak bisa lagi hanya
membandingkan tingkah laku identitas etnik ini, misalnya dengan tingkah laku
identitas etnik lainnya. Sebaiknya, langkah awal yang ditempuh ketika ingin
membandingkan suatu identitas, kita menguji tingkat identifikasi identitas
orang tersebut berada pada posisi mana dia.
Misalnya saja kita
ingin melakukan perbandingan identitas antara etnik Rusia yang tinggal di
Amerika dengan orang Amerika itu sendiri. Di sini kita tidak boleh gegabah
dahulu, karena kalau seandainya yang kita orang Rusia yang kita teliti itu
beraga Yahudi, maka cerita penelitiannya akan lain. Karena apa, karena seorang
yang berasal dari Rusia yang beragama yahudi, lebih senang mengidentifikasikan
diri mereka sebagai yahudi saja (Persky & Birman, 2005). Dengan begitu Pola
perbandingan identitas etnik tidak bisa diakukan buat Yahudi keturunan Rusia.
F.
Penutup
Identitas memang diperlukan
sebagai pembeda antara aku dan dia, aku dan mereka. Meskipun menidentifikasi
suatu identitas memang tidak selalu mudah, terkadang kita pun ragu sebenarnya
kita lebih memilih kelompok ini atau itu. Hasil dari ientifikasi kita tentang
identitas pun tidak jarang menimbullkan konflik antar kelompok, bahkan pengaruh
terbesar dari identifikasi identitas sosial adalah menciptakan jarak antara in-group dan out-group. Hal tersebut bukan berarti
tidak adanya identitas lebih baik ketimbang adanya identitas. Karena dengan
tidak adanya identitas, berarti tidak pula terjadi jarak dan konflik.
Tidak adanya identitas bukan
malah akan mempermudah kita. Bayangkan saja jika seluruh manusia yang hidup,
mereka semua tidak memiliki identitas, bagaimana kita bisa membedakannya si anu
dengan si fulan. Bahkan jika kita tidak tahu siapa diri kita, bagaimana kita
akan membentuk pandangan hidup.
Dalam masyarakat yang
multi-etnik, multi-kultural, dan berkumpul di sana berbagai macam kelompok memang akan menimbulkan identitas sosial
yang komplek sifatnya. Terkadang identifikasi kita sebagai guru terbawa pula
pada identifikasi kita sebagai orang tua. Meskipun begitu, dengan adanya
identitas-identitas, secara tidak langsung akan mengajarkan diri kita lebih
dewasa terhadap pebedaan. Seperti apa yang telah dijelaskan oleh Brewer (2002),
identitas yang tinggi keberagaman tinggi pada seseorang biasanya akan lebih
bersikap toleran terhadap kelompok lain.
Pengaruh pencarian identitas
selain positif, tentunya pengaruh negatif yang timbul tidak dapat dihindari,
seperti terjadinya konflik. Pencarian Identitas yang pada akhirnya menimbulkan
konflik sebenarnya lahir dari mereka yang belum bisa menyadari suatu perbedaan
(Moscovici). Suara bayi yang dikeluarkan
pada saat dia keluar dari rahim ibunya adalah sama suaranya. Pengalaman, tempat
berinteraksi, struktur budaya, polah asuh lah yang membuat suara-suara mereka
menjadi berbeda (Sarwono, 1999).
Rasa dari warna sebuah
perbedaan itu tergantung dari diri manusia itu menyikapinya. Jika jiwa-jiwa
yang hadir pada diri manusia tersebut intolerir, maka rasa yang keluar terhadap
suatu perbedaan itu adalah bersifat intolerir. Seandainya yang keluar dari
jiwa-jiwa mereka adalah bersifat tolerir, maka rasa yang keluar terhadap suatu
perbedaan mereka tanggapi dengan penuh toleransi. Seandainya saja rasa sifat
keterbukaan dan toleransi di ajarkan semenjak kecil pada tiap-tiap manusia,
maka tidak menutup kemungkinan suatu perbedaan sebagai pemicu konflik akan
berubah menjadi pemicu perdamaian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar