STUDI
FILM
Setiap anak lahir dengan membawa berbagai keunikan tersendiri, mereka memiliki impian dan ketertarikan yang berbeda, dan tentu tidak sama dengan orang lain termasuk orang tua yang telah melahirkan dan membesarkannya. Entah karena lupa, tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup, atau bahkan karena sikap egois yang ada pada orang tua,sehingga mereka sering tidak mau tahu dengan apa yang dirasakan oleh anak-anaknya. Oleh karenanya, masih banyak orang tua yang meminta dan menuntut anak-anak mereka bisa mencapai dan menjadi apa yang dapat diraih oleh orang lain secara umum.
Gaya mengajar yang berbeda dengan
guru-guru pada umumnya membuat Nikumbh digemari oleh semua siswa, tapi tidak
bagi Ishan. Sebab itulah, Nikumbh mencoba mengamati dan mencari tahu masalah
yang dihadapi oleh Ishan termasuk juga tanggapan orang tua tentang keaadaanya,
akhirnya dia mengetahui bahwa Ishan adalah anak yang mengalami Disleksia. Oleh
sebab itu, Dia membuat orang tua dan guru lainnya menyadari bahwa Ishaan
bukan anak yang abnormal, tetapi anak yang sangat khusus dengan bakat sendiri.
Dengan waktu, kesabaran dan perawatan Nikumbh berhasil dalam mendorong tingkat
kepercayaan Ishaan. Dia membantu Ishaan dalam mengatasi masalah pelajarannya
dan kembali menemukan kepercayaan yang hilang, serta mau kembali aktif dalam
menuangkan imajiansinya dalam lukisan-lukisan yang selama ini menjadi dunianya.
DESKRIPSI
MASALAH
Sebuah keluarga dapat dinilai sebagai suatu
sistem yang didalamnya memiliki serangkaian aturan, dengan berbagai batasan
untuk masing-masing subsistem yang ada didalamnya. Subsistem merupakan unit
yang ada dalam sebuah sistem yang secara keseluruhan memiliki fungsi dan peran
yang berbeda-beda. Menurut Irene & Herbert, hal yang perlu ditekankan
adalah kejelasan atas batasan dari masing-masing subsistem guna menciptakan
keluarga yang berfungsi secara efektif dan dapat bertumbuh bersama.
Film “Taare Zaamen Par” dapat
menjadi gambaran dari dinamika keluarga Asia secara umum. Dimana masing-masing
subsistem berperan sebagaimana mestinya, dan secara tradisional masih
disandarkan pada jenis kelamin. Ayah sebagai kepala keluarga bekerja di luar
rumah guna menghidupi keluarga. Ibu berperan sebagai isteri yang siap melayani
suami dan memenuhi seluruh kebutuhan anak, membimbing dan mengajari, serta
berperan sebagai pihak yang mengontrol semua urusan anak. Secara praktis,
penulis kurang melihat adanya peran keterlibatan ayah dalam membimbing
anak-anak. Sosok ayah dalam film itu digambarkan sebagai pihak yang sibuk
dengan urusan pekerjaan dan memiliki harapan yang tinggi untuk kedua anaknya.
Selain itu, ayah juga digambarkan sebagai sosok pribadi yang tegas, keras, dan
cukup ringan tangan ketika berhadapan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh
anak. Sikap semacam inilah yang menurut penulis, menyebabkan anggota keluarga
lain seperti; Maya, Yohan bahkan Ishan kurang dapat mengkomunikasikan apa yang
mereka rasakan dan apa yang mereka inginkan.
Peran-peran anggota keluarga dalam film itu
sesuai dengan yang digambarkan oleh Feldman mengenai dimensi psikologis peran
laki-laki dan perempuan secara tradisional. Pembagian peran itulah yang pada
akhirnya menghalangi keluarga berfungsi secara baik, karena adanya halangan-halangan
yang dihadapi oleh masing-masing subsistem untuk mengembangkan potensinya.
Berikut ini adalah peran suami dan isteri (laki-laki dan perempuan) yang dapat
penulis peroleh dengan mendasarkannya pada hasil penelitian Feldman:
1. Peran isteri; berorientasi rumah
dan anak, hangat dan penuh kasih sayang, peka dengan perasaaan anggota
keluarga, perhatian dan bijaksana, emosional, lemah (rapuh), penurut dan
cenderung tergantung dengan apa yang diungkapkan oleh suami.
2. Peran suami: ambisius,
kompetitif, kurang berperasaan, tangguh, dominan dalam menentukan dan membuat
keputusan, kasar (keras) dan otokratik (kaku).
Menurut hemat penulis, konflik yang terjadi
dalam keluarga Nandkishore Awasthidisebabkan oleh adanya ketidaktahuan
orang tua terhadap masalah yang dihadapi oleh anak (Ishan), yang
mengalami krisis perkembangan. Sebagai akibatnya, orang tua (ayah) menganggap bahwa Ishan
adalah anak yang malas, nakal dan tidak dapat diatur. Posisi Ishan juga
cenderung semakin sulit karena keadaannya bertolak belakang dengan apa yang ada
pada diri kakak (Yohan).Disfungsi peran keluarga memiliki korelasi yang kuat
dengan krisis perkembangan, baik perkembangan keluarga itu sendiri maupun
perkembangan setiap anggota keluarga, orangtua maupun anak.
Ayah menginginkan anak-anak yang cerdas,
pintar, dan sukses secara akademik sehingga mereka dapat menjawab tantangan
zaman yang terus menuntut persaingan. Keinginan ayah nampaknya tidak begitu
sulit bagi kakak (Yohan) karena dia memang anak yang cerdas dan memiliki
self-regulasi yang baik. Sedangkan bagi Ishan, harapan itu adalah hal yang
sangat sulit untuk dilakukan. Bukan karena dia malas ataupun nakal seperti yang
dipahami oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Semua itu disebabkan oleh
gangguan kesulitan belajar (disleksia) yang cukup terlambat diketahui baik oleh
orang tua maupun sekolah. Akibatnya, anaklah yang menjadi korban, dan
masalah-masalah perilaku yang ditunjukkan olehnya adalah bentuk pelarian dari
ketidakmampuannya, bukan karena dia ingin melakukannya.
Ciri keluarga yang disfungsi tergambar dengan
jelas dalam film “Taare Zameen Par”,misalanya:
1. Pola komunikasi yang patologis;
digambarkan oleh adanya komuniksi yang retak dengan sedikitnya kontrol emosi
dari masing-masing anggota keluarga khususnya ayah.
2. Tidak terlibat dan menjaga
jarak; ciri ini lebih ditekankan kepada ayah, yang kurang menunjukkan
keterlibatan secara langsung dalam urusan pendidikan dan pengarahan anak.
Kepedulian dan perhatian orang tua dipahami sebatas terhadap pemenuhan
kebutuhan fisik anak maupun laporan keberhasilan belajarnya. Sehingga sentuhan,
perhatian dan penghargaan terhadap prestasi kecil yang dapat diraih oleh anak
kurang begitu dipentingkan bahkan tidak pernah ditunjukkan. Kasih sayang orang
tua nampak muncul sebagai bentuk yang penerimaan bersyarat atas kemampuan
mereka.
3. Terjadi kekerasan; Dalam film
itu ada beberapa adegan yang menunjukkan sikap marah ayah, yang disertai dengan
pemukulan kepada anak.
Walaupun menggambarkan adanya ciri keluarga
yang disfungsi, film ini juga menggambarkan tentang proses dan upaya dari orang
tua untuk mencoba mengerti dan memahami kebutuhan dan keadaan anak. Hal
ini menunjukkan bahwa tidak sepenuhnya apa yang terjadi dalam keluarga itu
adalah salah, karena semuanya berangkat dari ketidaktahuan mereka. Orang tua
mau merubah dan menghagai impian dan keinginan anak dengan bantuan dari guru di
sekolah. Jadi, interaksi yang baik antara orang tua dan guru tentang
perkembangan ataupun problem yang dialami oleh anak, akan menjadi cara yang
bijak dalam memahami permasalahan anak.
Setiap anak adalah spesial dengan
berbagai keunikan harapan dan impian yang berbeda-beda. Oleh sebab itu tidak
tepat kiranya jika kita (para orang tua dan guru) memasung impian dan harapan
mereka. Ijinkan mereka hidup dengan potensi dan keunikan, hargailah apa yang
mereka lakukan, maka mereka pun akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang
sehat dan cerdas serta mengesankan semua orang.