Jumat, 28 Juni 2013

Taare Zameen Par

STUDI FILM

Film dengan judul “Taare Zameen Par” yang disutradarai oleh Amir Khan merupakan film yang sangat inspiratif. Cerita dalam film ini benar-benar sangat menyentuh, dan secara eksplisit menggambarkan tentang realita pendidikan yang terjadi pada anak, baik dalam sektor keluarga (orang tua) maupun sekolah (guru).
Setiap anak lahir dengan membawa berbagai keunikan tersendiri, mereka memiliki impian dan ketertarikan yang berbeda, dan tentu tidak sama dengan orang lain termasuk orang tua yang telah melahirkan dan membesarkannya. Entah karena lupa, tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup, atau bahkan karena sikap egois yang ada pada orang tua,sehingga mereka sering tidak mau tahu dengan apa yang dirasakan oleh anak-anaknya. Oleh karenanya, masih banyak orang tua yang meminta dan menuntut anak-anak mereka bisa mencapai dan menjadi apa yang dapat diraih oleh orang lain secara umum.

Praktik pendidikan yang terjadi di sekolah formalpun tak jauh berbeda dengan yang terjadi dalam keluarga. Dalam melaksanakan tugas sebagai guru, banyak dari mereka yang kurang bisa mendengarkan pendapat yang datang dari para siswa. Gambaran ini seolah ingin menegaskan bahwa guru adalah pihak yang paling tahu dalam proses pembelajaran. Zaman telah berubah, sumber informasi ada di mana-mana dan dapat dijangkau dengan mudah oleh anak-anak. Oleh sebab itu, anggapan yang demikian sangatlah tidak tepat. Proses belajar bisa terjadi dengan pola interaksi yang terjadi secara timbal balik dari guru-siswa, maupun siswa-guru. Pertukaran informasi itulah, yang nantinya dapat meningkatkan kemampuan dan wawasan siswa. Kemampuan mengelola proses pembelajaran juga harus disertai dengan kemampuan guru dalam memahami karakteristik setiap siswa. Pemahaman terhadap karakter setiap siswa dapat membantu guru dalam menentukan metode dan strategi belajar yang tepat. Setiap anak itu unik, mereka memiliki cognitive style yang berbeda antara siswa yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, tidak sepatutnya jika guru menerapkan metode yang selalu sama dalam proses pembelajaran. Jika keadaan ini terus dilakukan, maka penyampaian informasi dalam dunia pendidikan tidak akan merata, sebagian pihak diuntungkan dengan metode itu, sehingga mereka dapat mengikuti proses pembelajaran dengan lancar. Sedangkan siswa yang lain akan nampak sebagai siswa yang tidak mampu, terbelakang, malas dan berbagai labeling negatif lainnya, yang belum tentu tepat dengan keadaan mereka.

Film ini menceritakan tentang seorang anak yang bernama Ishan Nandkishore Awasthi, yang lahir sebagai anak terakhir dari dua orang bersaudara. Ayahnya bernama Nandkishore Awasthi sedangkan Ibunya bernama Maya Awashi. Ishan berusia 8 tahun, menunjukkan sikap yang kurang suka dengan kegiatan belajar dan sekolah. Setiap pelajaran yang diberikan dirasakan sebagai sesuatu yang sulit baginya, sehingga Iapun harus gagal dakam ujian dan tidak naik kelas. Akibat dari itu, Ishan selalu mendapatkan ejekan dari teman-temannya, semua guru pun tidak suka dengannya dan memberikan lebel-lebel negatif: nakal, tidak memperhatikan, tidak tahu malu, bodoh serta membandingkan kemampuan Ishan dengan Yohan kakaknya yang berkemampuan baik.

Serupa dengan keadaan itu, Maya pun sering sekali merasa kebingungan dalam mengajari Ishan ketika di rumah. Ishan selalu melakukan kesalahan yang serupa baik dalam menulis maupun berhitung. Ibunya sering merasa sedih dengan keadaan ini, karena anak-anak seusianya dapat melakukan hal-hal itu dengan sangat mudah, sedangkan Ishan sangat sulit untuk melakukannya. Di samping itu, Ishan sering sekali menunjukkan perilaku bermasalah; terlibat perkelahian, berpura-pura sakit, bolos sekolah serta tidak mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Setiap perilaku negatif yang dilakukan oleh Ishan dan itu diketahui oleh Ayahnya, maka Ishan dipastikan memperoleh “punishment” dari sang Ayah. Jika ini sudah terjadi baik Ibu maupun Yohan kakaknya tidak dapat melakukan apa-apa untuk membantu anak dan adik yang disayanginya.

Berdasarkan masalah-masalah yang dihadapi oleh Ishan itulah, sehingga ayahnya berkeinginan mengirimkan Ishan ke sekolah asrama yang cukup jauh dari rumah. Ketika mengetahui niat itu, Ishan menunjukkan sikap berontak kepada ayahnya. Dia juga meminta tolong kepada ibunya, agar ayahnya mengurungkan niatnya itu. Usaha yang dilakukan oleh Ishan tidak membuat niat ayahnya berubah, Iapun tetap dibawa ke asrama dan berpisah dengan keluarganya. Ishan menganggap bahwa sekolah di asrama merupakan hukuman yang diberikan oleh orang tua untuk anak-anak yang nakal dan tidak mau menurut. Anggapan itu kemudian diperkuat dengan sikap dan gaya mengajar guru di sekolah yang cenderung keras dengan alasan demi menegakkan kedisiplinan siswa.

Suasana kelas dan kegiatan asrama sama sekali tidak dapat dinikmati oleh Ishan, dan semua guru tetap menganggap dia sebagai siswa yang bodoh, berbagai hukumanpun diterima sebagai bentuk konsekuensinya. Ishan diselimuti oleh ketakutan dan kesedihan yang dalam, sehingga membuat dia tidak bersemangat dan tidak mau melakukan apapun termasuk melukis yang selama ini menjadi aktivitas yang Ia gemari. Keadaan itu terus berlangsung sampai datangnya guru seni pengganti yang bernama Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan).

 Gaya mengajar yang berbeda dengan guru-guru pada umumnya membuat Nikumbh digemari oleh semua siswa, tapi tidak bagi Ishan. Sebab itulah, Nikumbh mencoba mengamati dan mencari tahu masalah yang dihadapi oleh Ishan termasuk juga tanggapan orang tua tentang keaadaanya, akhirnya dia mengetahui bahwa Ishan adalah anak yang mengalami Disleksia. Oleh sebab itu, Dia membuat orang tua dan guru lainnya menyadari bahwa Ishaan bukan anak yang abnormal, tetapi anak yang sangat khusus dengan bakat sendiri. Dengan waktu, kesabaran dan perawatan Nikumbh berhasil dalam mendorong tingkat kepercayaan Ishaan. Dia membantu Ishaan dalam mengatasi masalah pelajarannya dan kembali menemukan kepercayaan yang hilang, serta mau kembali aktif dalam menuangkan imajiansinya dalam lukisan-lukisan yang selama ini menjadi dunianya.

DESKRIPSI MASALAH
Sebuah keluarga dapat dinilai sebagai suatu sistem yang didalamnya memiliki serangkaian aturan, dengan berbagai batasan untuk masing-masing subsistem yang ada didalamnya. Subsistem merupakan unit yang ada dalam sebuah sistem yang secara keseluruhan memiliki fungsi dan peran yang berbeda-beda. Menurut Irene & Herbert, hal yang perlu ditekankan adalah kejelasan atas batasan dari masing-masing subsistem guna menciptakan keluarga yang berfungsi secara efektif dan dapat bertumbuh bersama.
Film “Taare Zaamen Par” dapat menjadi gambaran dari dinamika keluarga Asia secara umum. Dimana masing-masing subsistem berperan sebagaimana mestinya, dan secara tradisional masih disandarkan pada jenis kelamin. Ayah sebagai kepala keluarga bekerja di luar rumah guna menghidupi keluarga. Ibu berperan sebagai isteri yang siap melayani suami dan memenuhi seluruh kebutuhan anak, membimbing dan mengajari, serta berperan sebagai pihak yang mengontrol semua urusan anak. Secara praktis, penulis kurang melihat adanya peran keterlibatan ayah dalam membimbing anak-anak. Sosok ayah dalam film itu digambarkan sebagai pihak yang sibuk dengan urusan pekerjaan dan memiliki harapan yang tinggi untuk kedua anaknya. Selain itu, ayah juga digambarkan sebagai sosok pribadi yang tegas, keras, dan cukup ringan tangan ketika berhadapan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh anak. Sikap semacam inilah yang menurut penulis, menyebabkan anggota keluarga lain seperti; Maya, Yohan bahkan Ishan kurang dapat mengkomunikasikan apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka inginkan.
Peran-peran anggota keluarga dalam film itu sesuai dengan yang digambarkan oleh Feldman mengenai dimensi psikologis peran laki-laki dan perempuan secara tradisional. Pembagian peran itulah yang pada akhirnya menghalangi keluarga berfungsi secara baik, karena adanya halangan-halangan yang dihadapi oleh masing-masing subsistem untuk mengembangkan potensinya. Berikut ini adalah peran suami dan isteri (laki-laki dan perempuan) yang dapat penulis peroleh dengan mendasarkannya pada hasil penelitian Feldman:
1.  Peran isteri; berorientasi rumah dan anak, hangat dan penuh kasih sayang, peka dengan perasaaan anggota keluarga, perhatian dan bijaksana, emosional, lemah (rapuh), penurut dan cenderung tergantung dengan apa yang diungkapkan oleh suami.
2.  Peran suami: ambisius, kompetitif, kurang berperasaan, tangguh, dominan dalam menentukan dan membuat keputusan, kasar (keras) dan otokratik (kaku).
Menurut hemat penulis, konflik yang terjadi dalam keluarga Nandkishore Awasthidisebabkan oleh adanya ketidaktahuan orang tua terhadap masalah yang dihadapi oleh anak (Ishan), yang mengalami krisis perkembangan. Sebagai akibatnya, orang tua (ayah) menganggap bahwa Ishan adalah anak yang malas, nakal dan tidak dapat diatur. Posisi Ishan juga cenderung semakin sulit karena keadaannya bertolak belakang dengan apa yang ada pada diri kakak (Yohan).Disfungsi peran keluarga memiliki korelasi yang kuat dengan krisis perkembangan, baik perkembangan keluarga itu sendiri maupun perkembangan setiap anggota keluarga, orangtua maupun anak.
Ayah menginginkan anak-anak yang cerdas, pintar, dan sukses secara akademik sehingga mereka dapat menjawab tantangan zaman yang terus menuntut persaingan. Keinginan ayah nampaknya tidak begitu sulit bagi kakak (Yohan) karena dia memang anak yang cerdas dan memiliki self-regulasi yang baik. Sedangkan bagi Ishan, harapan itu adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Bukan karena dia malas ataupun nakal seperti yang dipahami oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Semua itu disebabkan oleh gangguan kesulitan belajar (disleksia) yang cukup terlambat diketahui baik oleh orang tua maupun sekolah. Akibatnya, anaklah yang menjadi korban, dan masalah-masalah perilaku yang ditunjukkan olehnya adalah bentuk pelarian dari ketidakmampuannya, bukan karena dia ingin melakukannya.
Ciri keluarga yang disfungsi tergambar dengan jelas dalam film “Taare Zameen Par”,misalanya:
1.  Pola komunikasi yang patologis; digambarkan oleh adanya komuniksi yang retak dengan sedikitnya kontrol emosi dari masing-masing anggota keluarga khususnya ayah.
2.  Tidak terlibat dan menjaga jarak; ciri ini lebih ditekankan kepada ayah, yang kurang menunjukkan keterlibatan secara langsung dalam urusan pendidikan dan pengarahan anak. Kepedulian dan perhatian orang tua dipahami sebatas terhadap pemenuhan kebutuhan fisik anak maupun laporan keberhasilan belajarnya. Sehingga sentuhan, perhatian dan penghargaan terhadap prestasi kecil yang dapat diraih oleh anak kurang begitu dipentingkan bahkan tidak pernah ditunjukkan. Kasih sayang orang tua nampak muncul sebagai bentuk yang penerimaan bersyarat atas kemampuan mereka.
3.  Terjadi kekerasan; Dalam film itu ada beberapa adegan yang menunjukkan sikap marah ayah, yang disertai dengan pemukulan kepada anak.
Walaupun menggambarkan adanya ciri keluarga yang disfungsi, film ini juga menggambarkan tentang proses dan upaya dari orang tua untuk  mencoba mengerti dan memahami kebutuhan dan keadaan anak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak sepenuhnya apa yang terjadi dalam keluarga itu adalah salah, karena semuanya berangkat dari ketidaktahuan mereka. Orang tua mau merubah dan menghagai impian dan keinginan anak dengan bantuan dari guru di sekolah. Jadi, interaksi yang baik antara orang tua dan guru tentang perkembangan ataupun problem yang dialami oleh anak, akan menjadi cara yang bijak dalam memahami permasalahan anak.
 Setiap anak adalah spesial dengan berbagai keunikan harapan dan impian yang berbeda-beda. Oleh sebab itu tidak tepat kiranya jika kita (para orang tua dan guru) memasung impian dan harapan mereka. Ijinkan mereka hidup dengan potensi dan keunikan, hargailah apa yang mereka lakukan, maka mereka pun akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang sehat dan cerdas serta mengesankan semua orang.



Jumat, 09 Desember 2011

Teori Identitas Sosial


A.    Identitas Sebagai Pengantar

Manusia adalah mahkluk yang bertanya akan dirinya. Mahkluk yang harus mencari identitas dirinya. Mahkluk dengan kesadaran di manakah seharusnya dia berada. Keadaan tersebut tidak terjadi pada mahkluk-mahkluk lainnya, hewan, tumbuhan, dan lingkungan sekitarnya.
Aristoteles menyebut manusia sebagai hewan yang berpikir. Ketika manusia berpikir, pada saat itu manusia menyadari akan keberadaannya. I think, there for I am, demikian Descartes menyebutnya. Karena manusia adalah hewan yang berpikir, maka yang menyadari keberadaan sesuatu yang lain dan yang menyadari sesuatu yang lain itu ada adalah manusia bukan yang lain tersebut.
Berpikir adalah proses akan lahirnya kesadaran. Kesadaran berarti sadar akan sesuatu (Edmund Husserl).Kesadaran akan sesuatu maksudnya adalah ada diri selain diri kita yang berada di luar sana atau di luar diri, adanya subjek dan objek. kesadaran menimbulkan juga pemilahan, keraguan, dan pencarian makna.
Berbeda dengan yang lainnya (the other), kesadaran menyebabkan manusia selalu ingin bertanya. Dia selalu tidak puas akan dirinya (Sartre), selalu mencari dan berubah tidak pernah menetap. Bahkan dia pun mempertanyakan ke-akuannya.
Ketika manusia bertanya akan dirinya, disitulah sebenarnya manusia telah berupaya membedakan dirinya dengan yang lain, atau kita dengan mereka. Dalam perbedaan tersebut timbul pula identitas aku, mereka, dan yang lain. Misal saja jika aku bertanya aku siapa, pastilah aku juga akan memposisikan aku dimana dan orang lain itu dimana. Misalnya nama ku Idham, Idham orang mana? Idham orang Padang, dan dia siapa? Dia Nelda, dan Nelda orang Medan. Nelda seperti ini dan aku seperti ini.



Identitas umumnya dimengerti sebagai suatu kesadaran akan kesatuan dan kesinambungan pribadi, suatu kesatuan unik yang memelihara kesinambungan arti masa lampaunya sendiri bagi diri sendiri dan orang lain; kesatuan dan kesinambungan yang mengintegrasikan semua gambaran diri, baik yang diterima dari orang lain maupun yang diimajinasikan sendiri tentang apa dan siapa dirinya serta apa yang dapat dibuatnya dalam hubungan dengan diri sendiri dan orang lain.
Identitas diri seseorang juga dapat dipahami sebagai keseluruhan ciri-ciri fisik, disposisi yang dianut dan diyakininya serta daya-daya kemampuan yang dimilikinya. Kesemuanya merupakan kekhasan yang membedakan orang tersebut dari orang lain dan sekaligus merupakan integrasi tahap-tahap perkembangan yang telah dilalui sebelumnya.

Menurut Fromm (1947), Identitas diri dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan dari identitas sosial seseorang dalam konteks komunitasnya. Selain mahkluk individual yang membangun identitas dirinya berdasarkan konsep atau gambaran dan cita-cita diri ideal yang secara sadar dan bebas dipilih, manusia sekaligus juga mahkluk sosial yang dalam membangun identitas dirinya tidak dapat melepaskan diri dari norma yang mengikat semua warga masyarakat tempat ia hidup dan peran sosial yang diembannya dalam masyarakat tersebut.
Masyarakat begitu dekat dengan diri kita, sehingga kita sering lupa bahwa masyarakat itu sendiri berisi begitu banyak cara dalam mengadapi kehidupan (Fromm). Kita sering menganggap cara kita memperlakukan sesuatu adalah satu-satunya cara yang tersedia. Kita harus belajar bahwa semua itu telah menjadi alam bawah sadar bagi kita semua, atau lebih tepatnya alam bawah sadar sosial. Jarang sekali kita menganggap tindakan kita bukan berasal dari kehendak bebas kita sendiri. Sebaliknya, kita hanya mengikuti tatanan yang sudah ada dan tidak pernah kita pertanyakan lebih lanjut.

Menurut Erikson (1989,) membedakan dua macam identitas, yakni identitas pribadi dan identitas ego. Identitas pribadi seseorang berpangkal pada pengalaman lansung bahwa selama perjalanan waktu yang telah lewat, kendati mengalami berbagai perubahan, ia tetap tinggal sebagai pribadi yang sama. Identitas pribadi baru dapat disebut identitas Ego kalau identitas itu disertai dengan kualitas eksistensial sebagai subyek yang otonom yang mampu menyelesaikan konflik-konflik di dalam batinnya sendiri serta masyarakatnya. Menurut erikson, proses pembentukan identitas berlangsung secara pelan-pelan dan pada awalnya terjadi secara tak sadar dalam inti diri individu. Proses pembentukan identitas yang berangsur-angsur itu sebenarnya sudah dimulai pada periode pertama, yakni periode kepercayaan dasar lawan kecurigaan dasar.

JacquesLacan, psikoanalis asal Prancis, berpendapat bahwa awal pengenalan identitas diri hadir ketikaseorang mengalami apa yang disebut dengan fase cermin (Lacan, 1977). Sebelum masuk ketahap tersebut, balita belum bisa mengenal pemisahan antara diri sendiri danoranglain, bayi dan ibunya, di dalam dandi luar, laki-laki dan perempuan. Fase cermin berlangsung dalam bentuk keterbelahan antara aku yang melihat dan aku yang dilihat. Di sini subjek diidentifikasikan dengan sesuatu yanglain dengan dirinya sendiri (bayangan pada cermin), dan citra subjek itu sendiri yang terbangaun karenanya bergantung pada keterasingan, pada pemindahan diri kepada yang lain. Pada tahap ini, citra diri membentuk pengenalan diri yang keliru. Subjek menemukan bayangannya yang memikat sepanjang ia menghasilkan sebuah gambar diri yang koheren, ketika tubuh anak yang sesungguhnya benar-benar suatu dorongan-dorongan yang sembrawut.
Kesembrawutan pada fase cermin tersebut akan menjadi lebih teratur ketika sang subjek mulai memasuki tahap bahasa dan tahap hukum. Keterbelahan tahapan ini berbentuk aku yang berbicara dan aku yang dibicarakan. Dalam memasuki tahap bahasa kita menjadi akrab dengan karakter-karakter dalam sebuah kisah, yaitu kisah narasi dimana bahasa dengan tidak peduli terus bercerita tanpa mempedulikan aspirasi dan hasrat individu. Buat lacan, identitas diri atau subjektifitas adalah produk bahasa dan tidak ada sesuatu apa pundi luar bahasa.
Karena demikian pentingnya identitas, maka dalam perkembangan teori psikologi sosial, teori tentang identitas pada kelanjutannya menjadi sebuah kajian tersendiri. Teori tersebut dinamakan dengan teori identitas sosial yang dibawa dan diperkenalkan pertama kali oleh Henri Tajfel dan John Turner.

Henri Tajfel Sebagai Tokoh Teori Identitas Sosial

Henri Tajfel adalah keturunan Yahudi Polandia yang lahir di Wloclawek pada 22 Juni 1919. Akan tetapi Tajfel sudah bersifat agnostik sejak mudanya. Dia sama sekali tidak menganut secara penuh agama yang dianutnya.
Saat perang dunia kedua pecah, Tajfel yang sedang belajar ilmu kimia di Universitas Sorbone, Prancis, Kemudian diangkat menjadi tentara Francis. Pada masa peperangan, Tajfel tertangkap oleh tentara Jerman pada Juni 1940, dan menghabiskan masa waktu lima tahun sebagai tahanan perang diAustriadan Jerman.
Beruntung buat Tajfel, oleh tentara Jerman yang ditugaskan untuk mewancarai dan mengamatinya, pada pengamatan tentara tersebut tidak ditemukan ciri kalau dia adalah Yahudi. Jadi, Tajfel selamat dari pengiriman dirinya ke kamp-kamp konsentrasi Nazi buat para Yahudi. Meskipun begitu, ketika dia kembali ke rumah, banyak diantara teman dan keluarganya telah mati. Pengalaman inilah yang membentuk karirnya dalam tiga jalan. Pertama, dia mengembangkan konsep prejudice yang bersifat menetap; kedua, mengakui kalau nasibnya terikat kuat sepenuhnya dengan identitas kelompoknya; ketiga, dia memahami kalau Holocoust bukan hasil dari psikologi tapi dari operasi proses psikologi dimana konsep yang ada sebelumnya sudah terberi dalam konteks sosial dan politiknya. Setelah lepas dari kemiliteran, Tajfel berkerja dibeberapa organisasi, termasuk pada the UN Refugee Organisation untuk membantu membangun kembali hidup anak-anak yatim dan orang-orang yang menjadi pengungsi akibat perang. Pekerjaan tersebut membuat dia sering pergi ke Paris, Brussels dan Jerman Barat.
Tahun 1946 Tajfel mulai tertarik untuk belajar psikologi. Keinginannya tersebut terbentuk dari pengalaman hidup yang dijalaninya selama ini. Barulah pada akhir 1950, Tajfel mendapat kesempatan belajar psikologi di Ingris, tepatnya di Birckbeck. Bekerja seharian dan belajar pada malam hari, Tajfel pun meraih kelulusan predikat terbaik pada Universitas London, sebelum dia menjadi asisten peneliti di Universitas Durham tahun 1955 Awal dari pekerjaan Tajfel dibidang psikologi adalah bidang psikologi sosial yang merupakan bidang baru dalam bidang psikologi. Dia berkonsentrasi pada hubungan antara motivasi dan persepsi, hal persepsi yang ditekankan adalah persepsi yang berlebihan.
Dalam bidang ini Tajfel menemukan tiga konsep baru tentang persepsi :
1.      Bahwa asosiasi nilai dengan objek fisik tidak selalu memberikan persepsi yang berlebihan dalam perbandingannya terhahadap stimulus yang netral atau terhadap ukuran yang obejekjtif .
2.      Distorsi dalam persepsi tidak selalu berasal dari satu arah. 
3.      Tajfel membedakan atara penilaian persepsi interserial dengan intraserial. Dalam hal ini, Tajfel membuat permasalahan penilaian tentang persepsi menjadi lebih mudah dipahami, bahwa penilaian haruslah dilihat dulu dalam perbandingannya antara stimulus ketimbang hubngan lansung antara satu stimulus dan responnya saja (dalam, Purkhardt, 1993:140).
Setelah melakukan eksperimen yang dinamakan eksperimen kelompok minimal (minimal group experiment)”, Tajfel pun menjadi social psychologis yang cukup terkenal. Penelitian tersebut berusaha mendeterminasikan tentang prasangka kolektif, yang memperlihatkan kategorisasi sebagai pemicu terciptanya perbedaan antar kelompok.
Prase-prase pemikiran Tajfel tidaklah konstan, dia juga mengalami perubahan fokus pada penelitiannya. Walaupun demikian,bentuk inteletualitas Tajfel tetap dalam bidang psikologi Sosial. Dia hanya mengalami beberapa perubahan konsentarsinya antara awal kerjanya dengan pekerjaan selanjutnya. Pada prase pertama dia membangun tentang perspektif kognitif dalam permasalahan persepsi sosial di lingkungan fisik. Lalu yang kedua dia membangun peran nilai dan kategorisasi dalam penilaian persepsi antara lingkungan sosial dan fisik. Kemudian yang ketiga,dia berkonsentrasi secara eksplisit pada fenomena prasangka dalam konteks hubungan antar kelompok.
Ditahun 1968, Tajfel menjadi Profesor Psikologi Sosial dari Departemen Psikologi pada Universitas Bristol, dan dia tetap di sana sampai kematian menjemputnya pada tahun 1982. di Universitas Bristol Tajfel bekerja sama dengan peneliti-peneliti muda seperti Michael Billing, Dick Eisier, Jonathan Turner dan Glyns Breakwell. Pada 1974 Tajfel berhasil menembuskan proposal ke Social Science Research Council (SSRC) mengenai identitas sosial, kategorisasi sosial, dan perbandingan sosial dalam tingkah laku hubungan antar kelompok. Nantinya, bersama Turner, Tajfel mempopuerkan teori identitas sosial.

B.     Individu & Identitas Sosial

Manusia sebagai pribadi tidak dirumuskan sebagai suatu kesatuan individu saja tanpa sekaligus menghubungkannya dengan lingkungan sekitarnya. Kita tidak dapat membugkusnya ke dalam satu kesatuan individu saja, yang tidak pernah bersinggungan dengan lingkungan. Ketika kita membicarakan identitas di situ juga kita membicarakan kelompok. Buat Verkuyten, gagasan tentang identitas adalah hubungan antara individu dengan lingkungannya (Verkuyten, 2005). Adanya identitas dapat lebih memudahkan manusia menggambar keberadaan sesuatu sehinga dapat memberikan kemudahan manusia untuk bertindak.
Suatu kepribadian akan menjadi kepribadian apabila keseluruhan sistem psikofisiknya temasuk bakat kecakapan dan ciri-ciri kegiatannya menyatakan sebagai kekhasan dirinya dalam penyesuaian dirinya dengan lingkungannya. Kepribadian individu, keahlian individu, ciri-ciri akan dirinya baru akan ketahuan kepribadiannya ketika sudah melakukan interaksi dengan lingkungannya. Individu memerlukan hubungan dengan lingkungan yang menggiatkannya, merangsang perkembangannya, atau memberikan sesuatu yang ia perlukan. Tanpa hubungan, individu bukanlah individu lagi (Gerungan, 2004).
Karena Manusia tidak hidup sendiri tetapi hidup bersama dalam masyarakat dan lingkungannya, makanya Identitas terbentuk. Ini karena manusia butuh pengenalan diri. Identitas juga hadir biar manusia dapat saling mengenal sesama dan dapat membedakan sesama. Tajfel mendefinisikan Identitas sosial sebagai pengetahuan individu dimanadia merasa sebagai bagian anggota kelompok yang memiliki kesamaan emosi serta nilai (Tajfel, 1979).
Identitas sosial juga merupakan konsep diri seseorang sebagai anggota kelompok (Abrams & Hogg, 1990). Identitas bisa berbentuk kebangsaan, ras, etnik, kelas pekerja, agama, umur, gender, suku, keturunan, dll. Biasanya, pendekatan dalam identitas sosialerat kaitannya dengan hubungan interrelasionship, serta kehidupan alamiah masyarakat dansociety(Hogg & Abrams, 1988). Kemudian, pendekatan identitas sosial juga mengamati bagaimana kategori sosial yangada dalam masyarakat ternyata tidak terbentuk secara sejajar, tapi juga menimbulkan status sosial dan kekuasaan.
Identitas sosial sebagai teori tidaklah berangkat dari kekosongan lalu terbentuk begitu saja menjadi teori yang mengisi bidang psikologi sosial. Teori identitas sosial adalah evolusi teori yang keluar dari teori kategosisasi sosial. Teori kategorisasi sosial sendiri diperkenalkan oleh Tajfel tahun 1972. Teori identitas sosial adalah teori yang dikembangkangkan setelah Tajfel melihat kategorirasi yang dilakukan individu melekatkan juga nilai-nilai di dalamnya pada kelompoknya dalam menilai kelompok lain. Untuk membahas lebih dalam mengenai teori identitas sosial, ada baiknya dijelaskan dulu mengenai konsep kategori sosial.

C.    Kategorisasi Sosial

Kategorisasi sosial Terjadi ketika kita berpikir tentang seseorang baik diri kita atau orang lain sebagai anggota kelompok sosial yang berarti atau bermakna (dalam Stangor, 2004). Dalam hal ini kita melihat saya sebagai bagian kelompok A, misalnya, dan dia sebagai kelompok B. saya berada dalam kelompok ini karena memang sudah terlahir menjadi bagian kelompok yang saya anut sekarang bisa juga memang karena kelompok tersebut memang mendekati akan kriteria kepribadian saya.
Kategori sosial ini bisa saja berdasarkan dari ciri-ciri fisik, asal dari instansi mana mereka berasal, jenis kelamin, umur, dan lain-lain yang sekiranya bisa membentuk kelompok sosial. Dalam hal kategori ini, kelompok bisa saja mempengaruhi karakteristik dari individu, namun individu juga bisa mempengaruhi kelompok (dalam Stangor, 2004).
Harus disadari juga, dalam kategorisasi sosial, kategori diri juga ikut dipertimabangkan. Ketika kita mengkategorikan seseorang belum itu menggambarkan secara keseluruhan keberadaan seseorang tersebut. Untuk itu, kategori sosial hanya melihat nilai umumnya saja dari suatu individu sebagai dari keloompok yang dia anut.
Kategorisasi Diri terjadi ketika seseorang berpikir terhadap dirinya (daripada berpikir tentang orang lain) sebagai anggota kelompok sosial. Kategorisasi diri melibatkan di dalamnya perbandingan antara kelompok yang mereka miliki (in-group) dan kelompok yang tidak mereka rasa memilikinya (out-group).
Tujuan dari kategori sosial merupakan bagian dasar dari persepsi manusia untuk mempersepsikan yang lain. Dengan adanya kategorisasi, orang lebih bisa mempersiapkan hal yang akan dia tampilkan. Jika saja datang undangan pernikahan dengan adat betawi tentu saja pakaian yang dikenakan untuk mengahadiri pesta pernikahan tersebut akan berbeda dengan pakaian ketika akan pergi menghadiri pesta ulang tahun remaja 17 tahun.
Pengaruh dari kategorisasi sosial tidak melulu memberikan pengaruh yang positif saja, malah mungkin cenderung negatif. Contohnyaa saja stereotip; keyakinan seseorang atau kelompok tentang karakteristik dari kelompok sosial atau anggota dari kelompok tersebut. Lalu prasangka; sikap negatif yang unjustifiable terhadap out-group, atau terhadap anggota dari kelompok tersebut. Kemudian diskrimanasi; tingkah laku negatif yang unjustifiable terhadap anggota di luar kelompoknya berdasarkan pandangan dari kelompok mereka.
Proses kategorisasi sosial juga memberikan kepada kita informasi yang membuat kita mengetahui kita ini sebagai bagian darimana sehingga kita pun dapat mengetahui dengan jelas. Saya ini suku apa ? saya suku minang, karena bapak dan ibu saya orang minang. Disamping itu, proses kategosisasi sosial memberikan kemudahan kognitif pada manusia. kehidupan ini banyak sekali yang harus diolah oleh otak/pikiran. Dengan mengkategorisasi, tentu saja manusia akan lebih dimudahkan untuk mengenal. Dalam pemebeberan tersebut, proses kategorisasi sosial sudah hampir menuju terhadap konsep identitas sosial sebagai teori.

D.    Teori Identitas Sosial

Dalam teori identitas sosial, seorang individu tidaklah dianggap sebagai individu secara mutlak satu dalam kehidupannya. Individu merupakan bagian dari kelompok tertentu baik disadari maupun tidak disadari. Konsep identitas sosial adalah bagaimana seseorang itu secara sosial dapat didefinisikan (Verkuyten, 2005).
Dalam hal identitas, Identitas ituadayang terberi, tetapi adajugayang memang berasal dariproses pencarian. Identitas yang terberi cantohnya saja dalam hal identitas laki-laki dan perempuan. Identitas andi sebagai laki-laki adalah identitas yang sudah terberi sejak lahir, mau tidak mau dia harus menerima itu. Namun demikian, dengan kemajuan teknologi yangada, identitas yang terberipun bisa diganti dengan identitas yang kita inginkan, misalnya saja yang tadinya andi memiliki identitas laki-laki, namun dia memutuskan untuk merubah alat kelaminnya menjadi perempuan, sehingga identitas andi sekarang adalah perempuan. Penjelasan tersebut sekedar memberikan contoh saja kalau terkadang kitapun tak berhak memilih identitas kita sendiri. Karena manusia sebagai individu tidak bisa melepas keberadaannya dalam masyarakatmaka status identitas kita pun bisa saja datang darioranglain. Ini bisa timbul karena ketika identitas terlahir, lahir pulalah perbedaan yangjuga berupaya memberi identitas kepada orangdi luar dirinya.
Selain berusaha untuk mengenal identitas sendiri, manusia pun berusaha untuk memberikan identitas pada oranglain. Terkadang malah seorang individu tidak memiliki keberhakan memilih identitas yang dirasa lebih dekat dengannya. jika adaoranglainyang mengklaim dirinya berasal dari kelompok kita, tetapi sifat yangada padanya berbeda, maka orangitu kita tafsirkan bukan berasal dari kelompok kita tetapi berasal dari kelompok lainyang sesuai dengan kategorinya.
Memang, sebuah identitas hadir karena manusia butuh untuk mengkategorisasikan sesuatu. Dengan begitu, identitas sosial juga melibatkan pula ketegori dan menetapkan seseorang ke dalam struktur sosial atau wilayah sosial tertentu yang besar dan lebih lama ketimbang situasi partikular lainnya.

Jelas saja kategorisasi dan penetapan terhadap posisi seseorang sangatlah dibutuhkan, kalau tidak, bagaimana dia bisa membedakan yang satu dengan yang lainnya. Ketika kategorisasi terbentuk, perbedaan tentunya tidak dapat dihindari (Tajfel, 1972). Identitas sosial menjadi relevan ketika satu dari kategori melibatkan juga satu diri yang ikut berpartisipasi terhadap dorongan pada diri lainyang berasal dari kelompok yang sama (Abrams & Hoggs, 1990). Misalnya saja dorongan semangat untuk atlit olahraga yang berasal dari daerah yang sama. Dorongan pemberian semangat tersebut terjadi karena sang atlit membela kelompok yang mereka miliki bersama.
Manusia bukanlah makhluk yang pasif, menerima begitu saja keberadaan dirinya dan tidak butuh pengenalan diri. Manusia itu adalah makhluk yang dapat mengenal dan memikirkan situasi yang ada, melakukan sesuatu, berefleksi, menegaskan, bereaksi, dan berkreasi. Namun demikian, manusia tidak serta merta memilih akan identitasnya berasalkan dari pemikirannya pribadi tanpa terkanan dari luar. Masyarakat pun memberikan andil akan identitasnya. Ini karena identitas berasal dari interaksi individu dengan masyarakat. Dengan interaksi itu dia dapat mengetahui identitas mana yang cocok untuk dirinya.
Normalnya, suatu identitas sosial biasanya lebih menghasilkan perasaan yang positif. Hal tersebut terjadi karena kita menggambarkan kelompok sendiri diidentifikasikan memiliki norma yang baik. Jika anda berada dalam universitas yang terbaik di Indonesia, serta menjadi bagian dari kelompok tersebut merupakan bagian dari keinginan anda juga, dan ternyata hal itu membuat diri anda nyaman karena anda memang senang menjadi bagian dari mereka (Branscome, Wann, Noel, & Coleman, 1993; Deaux, 1996; Ethier & Deaux, 1994; P. Oakes & Turner, 1980; Oakes, haslam, & Turner, 1994; M. Rubin & Hewstone, 1998; Tajfel, 1981, dalam Stangor, 2004).
Identitas sosial yang melekat pada seseorang merupakan identitas posistif yang ingin dipertahankan olehnya. Oleh karena itu, individu yang memiliki identitas sosial positif, maka baik wacana maupun tindakannya akan sejalan dengan norma kelompoknya. Dan, jika memang individu tersebut diidentifikasikan dalam suatu kelompok, maka wacana dan tindakannya harus sesuai dengan wacana dan tindakan kelompoknya.

Konsep identitas sosial sebenarnya berangkat dari asumsi umum:

1.      Setiap individu selalu berusaha untuk merawat ataumeninggikan self-esteemnya:
      mereka berusaha untuk membentuk konsep diri yang positif.
 2.  Kelompok atau kategori sosial dan anggota dari mereka berasosiasi terhadap konotasi nilai positif atau negatif. Karenanya, identitas sosial mungkin positif atau negatif tergantungevaluasi (yang mengacu pada konsensus sosial, bahkan pada lintas kelompok) kelompok tersebut yang memberikan kontribusi pada identitas sosial individu.
3.  Evaluasi dari salah satu kelompok adalah berusaha mengdeterminasikan danjuga sebagai bahan acuan pada kelompok lain secara spesifik melalui perbandingan sosial dalam bentuk nilai atribut atau karakteristik (Tajfel, 1974, dalam Hogg & Abrams, 2000.

Identitas sosial sebagai teori tidak bisa lepas dari keinginan individu untuk memperbandingkan dirinya serta kelompoknya dengan yanglain. Perbandingan sosial digambarkan oleh Festinger (1954) sebagai teori dimana bisa membimbing kita untuk membandingkandiri kita dengan yanglain, siapa yang serupa dengan kita dan siapa yang berbeda, siapa yang berada di atas dan siapa yang berada di bawah.
Setidaknya ada tiga variabel yang mempengaruhi hubungan pembedaan antar kelompok dalam situasi sosial yang nyata (Tajfel, 1974; Turner, 1975; dalam Hogg & Abrams, 2000). 
1.      Individu pasti memiliki internalisasi kelompok mereka sebagai konsep diri mereka: secara subjektif mereka pasti menidentifikasikan kelompok yang relevan. Hal ini tidak cukup darioranglain saja yang mengidentifikasikan seseorang kalau dari kelompok manadia berasal. 
2.       Situasi sosial akan menciptakan perbandingan sosialyang memungkinkan terjadinya seleksi dan evaluasi atribut relasi yang relevan. Perbedaan kelompok pada tiap-tiap daerah tidak sama secara sikinifikan. Misalnya saja, di Amerika perbedaan kelompok lebih cenderung menonjol pada perbedaan warna kulit, tapi perbedaan warna kulit bukan sesuatu yang menonjol di Hongkong. 
3.      in-group tidak membandingkan dirinya pada tiap proses kognitif yangada pada out-group:
out-group pastinya dipersepsikan sebagai kelompok perbandingan yang relevan baik dalam kesamaan, kedekatan, dan secara situasional menonjol. Kemudian, Determinasi out-group dihasilkan sebagai perbandingan terhadap determinasi in-group.

Menurut Sarben & Allen (1968), identitas sosial juga berfungsi sebagai pengacu keberadaan posisi seseorang berada di mana dia. Berada di tingkatan mana kita berada, posisi seperti apa saja yang keberadaannya sama dengan kita dan mana juga yang berbeda. Teori identitas sosial melihat bahwa suatu identitas sosial selalumengklarifikasikan dirinya melalui perbandingan, tapi secara umumnya, perbandigannya adalah antara in-groups dan out-groupsIn-groupsbiasanya secara stereotype positif sifatnya, selalu lebih baik dibandingkan out-groups.
Identitas sosial juga menghasilkan representasi sosial yang keluar dari individu-individu yang berkumpul serta memiliki pandangan dan emosi yang sama (Doise. 1998,).  Representasi sosial dapat didefinisikan sebagai prinsip hubungan simbolik yang terorganisasi. Mereka memperkenalkan letak individu dalam hubungannya dengan objek sosial secara signifikan.
Representasi sosial dari tiap-tiap identitas adalah berbeda. Masing-masing identitas memiliki pandangannya dan pemahamannya terhadap dunia. Dari situ timbullah stereotipe, jika anda berasal dari kelompok tersebut maka sifat-sifat anda tidak jauh dari apa yangada dalam skema akan sifat-sifat kelompok anda. Sifat-sifat kelompok dimana individu berasal pastilah membawa sifat kelompoknya, Contoh : Jika nelda dari medan maka sifat nelda mungkin saja tidak jauh dengan stereotipe yang terbentuk tentang orangmedan adalah seperti itu. Tentu saja dalam hal ini bias terhadap sifat individu tidak dapat dihindari.


Identitas sosial Berusaha untuk medefinisikan dan mengeenal pemilahan dan penetapan. Setidaknya ada tiga komponen dasar bagi manusia untuk memilah dan menetap dari suatu identitas (Wenholt, dalam Verkueyten, 2005);
1.      Komponen struktur sosial.
Dalam kehidupan sosial selalu ada klasifikasi sosial orangke dalam suatu kategori atau kelompok. Telah sama-sama dijelaskan bahwa kategosrisasi sosial adalah dasar berpijak bagi seseorang dalam proses identitas dan hubungan antar kelompok. orang bisa saja diklasifikasikan ke dalam kategori jenis kelamin, umur, etnik, ras, budaya, dll.
2.      Komponen budaya
Komponen budaya adalah kategori seseorang dalam prakteknya yang sudah berlangsung terus menerus. Kategorisasi sosial belumlah bisa memperkenalkan seseorang kepada identitas sosial. komponen kedua ini dibutuhkan untuk melihat bagaimana seseorang itu bertindak, apakah memang tindakan yang dilakukan sesuai juga dengan norma kelompoknya. Dan tentu saja tingkah laku dapat mereferensikan seseorang dari kelompok manadia berasal.
3.      Definisi ontologism
Label dari kategori sosial itu kuat bukan hanya berasal dari tingkah lakunya, tetapi juga berasal daricara anggota dari suatu kategori (bisa kelompok, etnik, dll) itu melihat. Komponen ketiga ini, definisi ontologi, mencoba mengungkapkan orang lewat nilai alamiah orang tersebut dikategorisasikan. Komponen ini pun berangkat dari pernyataan yang sangat mendasar bahwa memang itulah dia, dandia tidak bisa menyangkal karena identitas ini memang menceritakan sesuatu tentang dirinya, tentang seperti apa dirinya. Hal tersebut memang menceritakan seseorang seperti apa (Verkuyten, 2005: 44-47).

Ketiga komponen yang telah dijelaskan tersebut tidak terpisah dalam suatu hubungan. Bahkan mereka sangat dekat berhubungan. Hal ini malah merupakan kombinasi yang memberikan penjelasan identitas lebih dalam dan jelas.


E.     Identitas Sosial & Identifikasi

Dengan adanya identitas kita memang menjadi tahu siapa kita dan siapa orang lain yang ada didepan kita, dimana posisi dia berasal, dan seperti apa dia seharusnya. Permasalahannya, suatu identitas individu itu, yang melekat pada dirinya tidaklah satu identitas, melainkan banyak identitas.
Selain orang Indonesia, seseorang juga bisa sebagai muslim, atau seorang ayah (Verkueyten, 2005:50). Hal ini tergantung dari hubungan keterikatan orang tersebut terhadap suatu identitas. Seorang individu yang memiliki keterikatan dengan istri, dengan anak, dengan pekerjaannya, dan dengan orang tuanya, maka individu tersebut setidaknya memiliki 4 identitas yangdia sandang, sebagai suami, sebagai ayah, sebagai pekerja, sebagai anak. (Stryker, 1968, 1980, dalam Smith-Lovin, 2002). Dalam keempat identitas tersebut, peran-peran yang dilakukan tentulah tidak sama.

Krisis identitas juga bisa terjadi karena identitas menonjol yang disandangnya memberikan nilai yang negatif buatnya. Tak jarang kita mendengar keinginan orang berkulit hitam yang tinggal di Amerika hendak mengganti kulitnya menjadi warnah putih karena penghinaan yang selalu diberikan kepada ras mereka.
Dalam dunia nyata, kebanyakan dari individu pun biasanya memiliki keanggotaan kelompok yang lebih dari satu. Hal tersebut juga memberikan pengaruh pada bias terhadap kategorisasi sosial dan in-group. Jika ada satu orang yang menjadi pemimpin pada dua kelompok yang berbeda tentu akan sulit menilai sifat dia secara siginikan lebih dekat kemana. Saat ini, kajian tentang multi-identitas merupaan kajian yang hangat dalam bidang penelitian psikologi sosial terhadap identitas. Ini terjadi karena kebanyakan dari para peneliti tentang identifikasi sosial sudah setuju kalau tiap orang memiliki identitas yang banyak/multi ( e. g., Stryker & Statham, 1985; tajfel, 1978; for review, see deaux, 1996; dalam Brewer, 2002).

Memiliki identitas sosial yang banyak memungkinkan timbulnya kombinasi pada tiap identitas tersebut. Ini terjadi karena tiap identitas sosial itu tidak bebas, melainkan berhubungan dekat pada tiap-tiapnya. Terkadang isu ras juga bersangkut paut dengan suatu bangsa atau warna kulit, bahkan gender dan agama (Miles, 1989, dalam Verkuyten, 2005). Seperti misalnya perjadi konflik antara suku minang dengan suku batak, pertikaian tersebut bisa saja berawal dari permasalahan etnik yang kemudian berimbas menjadi isu pertikaian agama karena orang batak itu Nasrani dan orang Minang itu Muslim.

Brewer (2002) melihat, walaupun tiap individu memiliki identitas lebih dari satu, menurutnya ada yang rendah sifatnya tetapi ada juga yang tinggi sifat kekompleksitasan identitasnya. Individu dengan kompleksitas identitas sosial yang rendah cenderung akan lebih sering bertemu dan berinteraksi pada kelompoknya. Identitas tersebut membuat jarak antara individu dan kelompok sulit dipisahkan. Kompleksitas sosial yang rendah adalah identitas yang secara subjektif lebih melekat pada satu representasi kelompok. Individu dengan kompleksitas identitas sosial yang tinggi dapat melihat perbedaan dirinya dengan kelompoknya. Dari merekatercipta juga jarak serta adanya pemisahan antara dirinya sejati dengan dirinya sebagai anggota kelompok.

Kompleksitas sosial yang tinggi adalah individu yang secara subjektif cukup sulit diidentifikasikan dia merupakan representasi dari kelompok mana. Lebih spesifik lagi, ketelibatan pemahaman yang komplek dapat dilihat dari apa maksud orang kalau saya adalah kelompok “A” dan “B”. Padahal setiap kelompok memiliki ciri khas dan nilai yang berbeda. Apalagi kalau individu tersebut merupakan ketua dari kedua kelompok yang dia sandang.
Individu yang lebih Sering bertemu, berinteraksi, dengan kelompok yang itu-itu saja akan lebih membuat Individu tersebut merasa telah menyatu dengan kelompoknya. Individu yang demikian menurut Brewer akan lebih berelasi negatif terhadap inklusifitas in-group dan toleransi terhadap out-group, dia akan bersifat intoleran pada kelompk yang dianggapnya berbeda. Tetapi Individu yang rendah tingkat kompleksitas sosialnya akan lebih tidak toleran dan menerima out-groups secara umum dibandingkan dengan individu yang tinggi tingkat kompleksitas sosialnya. Nilai positif kelompok cenderung akan lebih tinggi pada individu yang rendah kompleksitas sosialnya.

Identifikasi Identitas Terhadap Rasa

Problem identitas sosial yang komplek akan berpengaruh sekali terhadap idetifikasi diri, berada pada seperti apa diri individu tersebut. Ketika sudah memutuskan identitas yang dipilih, bukan berarti identitas-identitas lainnya dinafikan dan tidak diakui.
Hal ini terjadi pada penelitiannya Inga jasinskaja-Lahti & Kamerla Liebkind (1999). Mereka meneliti para Imigran Rusia yang tinggal di Finladia. Penelitian menunjukan ternyata kebanyakan dari mereka tetap mengidentifikasikan identitas diri mereka sebagai orang Rusia. Tetapi,Walaupun mereka mengidentifikasikan diri mereka sebagai Rusia, mereka tetap memiliki pandangan positif tentang Finlandia sebagai wilayah yang dia huni sekarang. Pandangan positif tersebut bermacam-macam, ada yang tetap begitu bangga menjadi Rusia, ada pula yang mengatakan senang menjadi warga Finlandia, adapula yang mengatakan senang menjadi bagian dari budaya Finlandia. Respon tersebut tidak lepas juga dari penerimaan orang Finlandia asli terhadap para pendatang, ditambah dengan pergaulan para imigran.
Untuk ukuran rasa memiliki identitas dan persepsi pada masyarakat saat ini, tingkatan identifikasi etnik sulit sekali untuk dicari signifikansinya (Jasinskaja-Lahti & Liebkind, 1999). Pada masyarakat perkotaan misalnya saja, di sana berkumpul berbagai masyarakat dari berbagai etnik, agama, kepentingan dan kebiasaan. Ada pendatang yang sudah lama tinggal di sana, ada juga yang baru saja tiba. Tentunya mereka tidak langsung begitu saja berhubungan dan berkomunikasi layaknya seperti kebiasaan mereka dahulu, pastilah ada perubahan. Ini terjadi karena mereka berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaannya sekarang. Dalam menjalani dunia yang baru tentunya akan ada proses penyesuaian diri dahulu.


Ketika hendak membandingkan identitas satu dengan yang lainnya, kita tidak bisa juga membandingkannya lewat satu kategori yang sama saja. Kita tidak bisa lagi hanya membandingkan tingkah laku identitas etnik ini, misalnya dengan tingkah laku identitas etnik lainnya. Sebaiknya, langkah awal yang ditempuh ketika ingin membandingkan suatu identitas, kita menguji tingkat identifikasi identitas orang tersebut berada pada posisi mana dia.
Misalnya saja kita ingin melakukan perbandingan identitas antara etnik Rusia yang tinggal di Amerika dengan orang Amerika itu sendiri. Di sini kita tidak boleh gegabah dahulu, karena kalau seandainya yang kita orang Rusia yang kita teliti itu beraga Yahudi, maka cerita penelitiannya akan lain. Karena apa, karena seorang yang berasal dari Rusia yang beragama yahudi, lebih senang mengidentifikasikan diri mereka sebagai yahudi saja (Persky & Birman, 2005). Dengan begitu Pola perbandingan identitas etnik tidak bisa diakukan buat Yahudi keturunan Rusia.

F.     Penutup

Identitas memang diperlukan sebagai pembeda antara aku dan dia, aku dan mereka. Meskipun menidentifikasi suatu identitas memang tidak selalu mudah, terkadang kita pun ragu sebenarnya kita lebih memilih kelompok ini atau itu. Hasil dari ientifikasi kita tentang identitas pun tidak jarang menimbullkan konflik antar kelompok, bahkan pengaruh terbesar dari identifikasi identitas sosial adalah menciptakan jarak antara in-group dan out-group. Hal tersebut bukan berarti tidak adanya identitas lebih baik ketimbang adanya identitas. Karena dengan tidak adanya identitas, berarti tidak pula terjadi jarak dan konflik.

Tidak adanya identitas bukan malah akan mempermudah kita. Bayangkan saja jika seluruh manusia yang hidup, mereka semua tidak memiliki identitas, bagaimana kita bisa membedakannya si anu dengan si fulan. Bahkan jika kita tidak tahu siapa diri kita, bagaimana kita akan membentuk pandangan hidup.

Dalam masyarakat yang multi-etnik, multi-kultural, dan berkumpul di sana berbagai macam kelompok memang akan menimbulkan identitas sosial yang komplek sifatnya. Terkadang identifikasi kita sebagai guru terbawa pula pada identifikasi kita sebagai orang tua. Meskipun begitu, dengan adanya identitas-identitas, secara tidak langsung akan mengajarkan diri kita lebih dewasa terhadap pebedaan. Seperti apa yang telah dijelaskan oleh Brewer (2002), identitas yang tinggi keberagaman tinggi pada seseorang biasanya akan lebih bersikap toleran terhadap kelompok lain.

Pengaruh pencarian identitas selain positif, tentunya pengaruh negatif yang timbul tidak dapat dihindari, seperti terjadinya konflik. Pencarian Identitas yang pada akhirnya menimbulkan konflik sebenarnya lahir dari mereka yang belum bisa menyadari suatu perbedaan (Moscovici). Suara bayi yang dikeluarkan pada saat dia keluar dari rahim ibunya adalah sama suaranya. Pengalaman, tempat berinteraksi, struktur budaya, polah asuh lah yang membuat suara-suara mereka menjadi berbeda (Sarwono, 1999).

Rasa dari warna sebuah perbedaan itu tergantung dari diri manusia itu menyikapinya. Jika jiwa-jiwa yang hadir pada diri manusia tersebut intolerir, maka rasa yang keluar terhadap suatu perbedaan itu adalah bersifat intolerir. Seandainya yang keluar dari jiwa-jiwa mereka adalah bersifat tolerir, maka rasa yang keluar terhadap suatu perbedaan mereka tanggapi dengan penuh toleransi. Seandainya saja rasa sifat keterbukaan dan toleransi di ajarkan semenjak kecil pada tiap-tiap manusia, maka tidak menutup kemungkinan suatu perbedaan sebagai pemicu konflik akan berubah menjadi pemicu perdamaian.